Hakikat Proses Belajar Mengajar

Hakikat Proses Belajar Mengajar

Eureka Pendidikan. Dalam sebuah sistem pendidikan, kegiatan proses belajar mengajar dapat dikatakan sebagai kegiatan inti dari pelakasanaan kurikulum. Secara teori Kukikulum Eksperensial adalah dijabarkan sebagai proses pembelajaran dimana proses ini bersisi proses belajar yang dilaksanakan oleh siswa dan proses mengajar yang merupakan tanggung jawab dari guru.

Dalam kegiatan belajar mengajar, Peserta didik memiliki sebagai subjek dan sebagai objek dari kegiatan pembelajaran. Karena itu, inti proses pembelajaran tidak lain adalah kegiatan belajar peserta didik dalam mencapai suatu tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran tentu saja akan dapat tercapai jika peserta didik berusaha secara aktif untuk mencapainya. Keaktifan peserta didik tidak hanya dituntut dari segi fisik, tetapi juga dari segi kejiwaan. Bila hanya fisik  peserta didik yang aktif, tetapi pikiran dan mentalnya kurang aktif, maka kemungkinan besar tujuan pembelajaran tidak tercapai.

Proses pembelajaran secara aktif akan menyebabkan munculnya perubahan tingkah laku. Perubahan tingkah laku ini dapat diamati dan berlangsung dalam tenggang waktu tertentu, apakah jangka pendek atau jangka panjang. Bentuk perubahan tingkah laku ini , misalnya karena seorang anak yang karena usahanya dari tidak tahu menjadi tahu atau dari tidak mampu menjadi mampu mengerjakannya. Dengan pengertian seperti ini, seorang anak dikatakan telah melakukan proses pembelajaran.

Dengan belajar seseorang akan mengalami suatu perubahan menuju ke tingkat lebih tinggi. Untuk itu seseorang perlu memperhatikan tingkatan dan langkah pada saat proses pembelajaran. Dalam hal ini, proses belajar berlangsung secara berkesinambungan dan berulang-ulang selama proses pembelajaran berlangsung. Proses pembelajaran yang dimaksud di sini dapat mempelajari suatu materi pelajaran secara berulang-ulang dalam waktu yang sama atau materi yang sama dan masih berkaitan seperti pada waktu-waktu sebelumnya
Ada beberapa definisi tentang belajar, antara lain dapat diuraikan sebagai berikut:

  1. George J. Mouly, belajar pada hakikatnya adalah proses perubahan tingkah laku seseorang berkat adanya pengalaman
  2. Kimble dan Garmezi, belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif permanen , terjadi sebagai hasil dari pengalaman.
  3. Garry dan Kingsley, belajar adalah proses perubahan tingkah laku yang orisinil melalui pengalaman dan latihan-latihan. (Sudjana, 1989: 5)
  4. Belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman (learning is defined as the modification or strengthening of behavior through experiencing) Hamalik, 2006: 27
  5. Morgan. Learning is any relatively permanent change in behavior that is a result of past experience. (Muliati, 2005: 4)

Dari kelima definisi di atas, dapat diterangkan bahwa belajar pada dasarnya adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman. Perubahan tingkah laku menurut Witherington meliputi perubahan keterampilan, kebiasaan, sikap, pengetahuan, pemahaman, dan apresiasi. Sedangkan pengalaman dalam proses belajar menurut Benyamin Bloom tidak lain ialah interaksi antara individu dengan lingkungannya. (Sudjana, 1989: 6)

Sama halnya dengan belajar, mengajar pun pada hakikatnya adalah suatu proses, yaitu proses mengatur, mengorganisasi lingkungan yang ada di sekitar anak didik, sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong anak didik melakukan proses belajar. Pada tahap berikutnya mengajar adalah proses memberikan bimbingan/bantuan kepada anak didik dalam melakukan proses belajar. Nana Sudjana (Syaiful B.D. dan Aswan Z, 2002: 45).

 
Belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada semua orang dan berlangsung seumur hidup. Menurut Abdurrahman (1994), belajar adalah suatu perubahan pada diri individu sebagai akibat atau hasil interaksi antara individu dengan lingkungannya yang menjadikannya mendapatkan kemampuan yang lebih tinggi untuk hidup secara wajar dalam lingkungannya.

         Menurut Nasution (1998) ciri-ciri kegiatan yang disebut belajar adalah sebagai berikut:
  1. Belajar adalah aktivitas yang menghasilkan perubahan pada diri individu yang belajar baik yang actual maupun potensial.
  2. Perubahan itu pada dasarnya berupa didapatkannya kemampuan baru yang  berlaku dalam waktu yang relatif lama.
  3. Perubahan itu terjadi karena usaha.
Belajar membawa suatu suatu perubahan pada diri individu yang belajar. Perubahan itu tidak hanya mengenai jumlah pengetahuan, tetapi juga bentuk kecakapan-kecakapan, kebiasaan-kebiasaan, sikap, minat dan penyesuaian diri (Sahabuddin. 2002).

Menurut Hamalik (1994) tujuan belajar adalah sejumlah hasil belajar yang menunjukkan bahwa siswa telah melaksakan kegiatan dan proses belajar, yang umumnya meliputi pengetahuan, keterampilan dan sikap-sikap yang baru, yang diharapkan tercapai oleh siswa.

Untuk mencapai tujuan belajar tersebut tidak lepas dari tugas seorang guru dalam mengajar. Mengajar adalah membelajarkan sipengajar atau peserta didik dal;am rangka mencapai tujuan pendidikan. Sedangkan menurut Alvin W.H (dalam Abdurrahman. 1994) bahwa mengajar adalah suatu aktivitas untuk menolong dan membimbingseseorang untuk mendapatkan, merubah dan mengembangkan skill, attitude, ideas, appreciations and knowledge.

Mengajar berarti mengendalikan kondisi-kondisi situasi belajar seperti menarik perhatian, menyajikan stimulus yang serasi dan memberikan petunjuk atau penjelasan verbal dan urutan tertentu (Nasution. 1998).

Mengajar pada umumnya usaha guru untuk menciptakan kondisi-kondisi atau mengatur lingkungan sedemikian rupa, sehingga terjadi interaksi antara murid dengan lingkungan, termasuk guru, alat pelajaran, dan sebagainya yang disebut proses belajar, sehingga tercapai tujuan pelajaran yang telah ditentukan (Nasution. 1998).

Proses belajar mengajar dalam suatu pendidikan khususnya disekolah-sekolah merupakan kegiatan inti dalam mencapai suatu tujuan pendidikan. Sedangkan menurut Sahabuddin (2002) proses belajar mengajar adalah suatu peristiwa yang melibatkan dua pihak guru dan siswa dengan tujuan yang sama, yaitu meningkatkan prestasi belajar, tetapi dengan pemikiran yang berbeda.

Menurut sudjana (1987) asumsi yamg melandasi hakikat belajar mengajar adalah (a) peristiwa belajar terjadi apabila subjek didik secara aktif berinteraksi dengan lingkungan belajar yang diatur oleh guru, (b) proses belajar mengajar yang efektif memerlukan strategi dan metode/teknologi pendidikan yang tepat, (c) program belajar mengajar dirancang dan dilaksanakan sebagai suatu sistem, (d) proses dan produk belajar perlu memperoleh perhatian seimbang, (e) pembentukan kompetensi profesional memerlukan pengintegrasian fungsional antara teori dan praktek serta materi dan metodologi menyampaiannya, (f) pembentukan kompetensi profesional memerlukan pengalaman lapangan yang bertahap mulai dari pengalaman medan, latihan keterampilan terbatas sampai dengan pelaksanaan dan penghayatan tugas-tugas kependidikan secara lengkap adalah pendemonstrasian penguasaan kompetensi, (h) materi penyajian, sistem penyampaiannya selalu berkembang.

Abdurrahman,2004, Pengelolaan Pengajaran, Bintang Selatan, Ujung Pandang.
Nasution, N, 1998, Psikologi Pendidikan, Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Dan Universitas Terbuka, Jakarta

Sahabuddin, 2002, Belajar dan Pembelajaran, Skripsi, Makassar, Universitas Negeri Makassar.

Sudjana, N, 1987, Dasar-dasar Proses belajar Mengajar, Sinar Baru Algesindo, Bandung.

0 Response to "Hakikat Proses Belajar Mengajar"

Poskan Komentar