Kebermaknaan Belajar Dalam Sebuah Proses Pembelajaran Antara Guru Dan Siswa

Kebermaknaan Belajar Dalam Sebuah Proses Pembelajaran Antara Guru Dan Siswa


Eureka Pendidikan. Menurut Uno (2008: 52),
tujuan utama pembelajar adalah mengelola aktivitas stimulus, respon, dan penguatan sebagai satu kesatuan kerja untuk memvariasikan dan mengoptimalkan terjadinya tindak belajar (learning actions). Akan tetapi, dalam praktik tugas ini sering ditafsirkan sebagai pemberian pengetahuan teoritis deskriptif sebanyak-banyaknya sehingga dalam banyak kejadian di kelas terkesan nyaris tanpa makna karena tidak dapat diikuti dengan tindak belajar yang semestinya.

Pembelajaran adalah sebuah upaya dengan tujuan kebermaknaan belajar. Memahami pengertian demikian, Pembelajaran adalah aktifitas yang bergantung tujuan belajar.  Pengetahuan yang tak terbatas menyebabkan tujuan-tujuan belajar disederhanakan pada konsep ilmu tertentu. Kebermaknaan sendiri tidak terlepas dari interaksi.  Interaksi, bagi siswa, dipahami sebagai kebermaknaan terhadap berbagai sumber belajar. Oleh sebab itu kebermaknaan belajar dibatasi pada waktu yang dibutuhkan untuk mencapai standar kompetensi (SK).

Menurut Uno (2008:53),
Belajar merupakan proses internal yang tidak dapat diamati secara langsung. Perubahan perilaku seseorang yang tampak sesungguhnya hanyalah refleksi dari perubahan internalisasi persepsi dirinya terhadap sesuatu yang sedang diamati dan dipikirkannya. Sedangkan fungsi stimulus yang datang dari luar direspon sebagai aktivator kerja memori otak untuk membentuk dan mengembangkan struktur kognitif melalui proses asimilasi dan akomodasi yang terus-menerus diperbaharui, sehingga akan selalu saja ada sesuatu yang baru dalam memori dari setiap akhir kegiatan belajar.

Menurut aliran kognitif tersebut, belajar merupakan kegiatan siswa untuk mendapatkan pengetahuan. Siswa pada tahap selanjutnya memaknai sendiri belajar melalui pengalaman dan eksperimen untuk menemukan pengetahuan dan kemampuan baru yang khas baginya. Sejalan dengan keadaan demikian, Ausubel dalam Uno (2008:12) berpendapat:

Siswa akan belajar dengan baik jika apa yang disebut “pengatur kemajuan” (Advance Organizers) didefinisikan dan dipresentasikan dengan baik dan tepat kepada siswa. … “advance organizers” dapat memberikan tiga manfaat, yakni
  • Dapat menyediakan suatu kerangka konseptual untuk materi belajar yang akan dipelajari oleh siswa,
  • Dapat berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan antara apa yang sedang dipelajari siswa “saat ini” dengan apa yang “akan” dipelajari siswa; sedemikian rupa sehingga,
  • Mampu membantu siswa untuk memahami bahan belajar secara lebih mudah.

Upaya guru untuk membantu siswa belajar dengan baik dapat dilakukan dengan menyampaikan secara umum manfaat dari materi belajar itu, tahapan-tahapan apa saja yang sebaiknya ditempuh siswa dalam memahami materi belajar, misalnya sebelum mempelajari materi elastisitas dan gerak harmonik sederhana guru menginformasikan bekal awal materi yang harus dikuasai yaitu konsep gaya.  Selain itu, informasi perlu berisikan imbalan dan hukuman jika bekal awal tersebut tidak dikuasai dengan cara guru menginformasikan sebelum mempelajari materi elastisitas dan gerak harmonik sederhana.

Uno (2008:12) menambahkan,
pengetahuan guru terhadap isi mata pelajaran harus sangat baik. Hanya dengan demikian seorang guru akan mampu menemukan informasi, yang menurut Ausubel “sangat abstrak, umum, dan inklusif”, yang mewadahi apa yang akan diajarkan. Selain itu, logika berpikir guru juga dituntut sebaik mungkin. Tanpa memiliki logika berpikir yang baik, maka guru akan kesulitan memilah-milah materi pelajaran, merumuskannya dalam rumusan yang singkat dan padat, serta mengurutkan materi demi materi ke dalam struktur urutan yang logis dan mudah dipahami.

Belajar, pada akhirnya, bergantung dari kondisi dua pihak. Kondisi ini menyangkut kesiapan siswa dalam menerima berbagai sumber belajar dan kesiapan sumber belajar (guru dan berbagai sumber belajar lainnya) dalam mengkonstruksikan pengetahuan siswa. Memahami kondisi ini, Bruner dalam Uno (2008: 12), mengusulkan:

proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu aturan (termasuk konsep, teori, definisi, dan sebagainya) melalui contoh-contoh yang menggambarkan (mewakili) aturan yang menjadi sumbernya.

Memahami usulan Bruner tersebut teori pembelajaran pada dasarnya mempersoalkan bagaimana membelajarkan suatu konsep ilmu, sedangkan teori belajar mempersoalkan siapa si belajar (siswa). Uno (2008:13) memisalkan perbedaan teori pembelajaran dan teori belajar sebagai berikut:

teori belajar memprediksikan berapa usia maksimum seorang anak untuk belajar penjumlahan, sedangkan teori pembelajaran menguraikan bagai-mana cara-cara mengajarkan (membelajarkan) penjumlahan.

Meskipun demikian, perbedaan teori pembelajaran dan teori belajar, lebih bersifat pada ruang lingkup objek penelitian (siswa). Perbedaan teori pembelajaran dan teori belajar seperti yang telah dimisalkan pada tahap selanjutnya menunjukkan hubungan yang baik dalam menggunakan metode eksperimen. Di dalam metode eksperimen guru hanya mempersoalkan bagaimana siswa mempelajari materi belajar (berpusat pada materi belajar) dan tidak mempersoalkan apa, siapa, kapan, dimana, dan bagaimana siswa (berpusat pada siswa).

Bruner dalam Uno (2008:13) mengemukakan “perlu adanya teori pembelajaran yang akan menjelaskan asas-asas untuk merancang pembelajaran yang efektif di kelas.”  Uno (2008:50) lebih lanjut memberikan tiga alternatif pendekatan pembelajaran ditinjau dari sudut pandang psikologi, yaitu; 1. Pendekatan perilaku (behavioral approach), 2. Pendekatan Kognitif (cognitive approach), 3. Pendekatan Terapan (applied approach). Landasan ketiga pendekatan tersebut dirangkum sebagai berikut:

 

Pendekatan Perilaku (Behavioral Approach)


Pendekatan perilaku (behavioral approach) dilandaskan pada:
  1. Mempersyaratkan perubahan perilaku yang teramati dan dapat diukur.
  2. Stimulus merupakan penyebab pokok terbentuknya respon-respon dalam belajar. Stimulus yang dimaksud dinamakan operant conditioning yang dibentuk melalui pengubahan materi bahasan sedemikian rupa sehingga dapat merangsang pembelajar mengembangkan perilaku seperti yang dikehendaki dalam tujuan belajar. Sebagai pengembangan dan konsepsi classical conditioning yang mengabaikan jarak antara stimulus (S) dan respons (R), operant conditioning sesunguhnya merupakan sinyal-sinyal penggerak pikiran dan dipandang sebagai mediator dari apa yang diinginkan pemberi stimulus dengan harapan penerima mengembangkan reaksi pikiran dan tindakan-tindakan tertentu.
  3. Bentuk pembelajaran yang sengaja dirancang untuk memberikan kemudahan siswa belajar. Bahan-bahan belajar hendaknya berisikan seperangkat langkah-langkah pendek atau frames yang setiap langkahnya memerlukan aktivitas respon dari guru dan setiap respon harus disisipkan balikan segeranya untuk mengetahui keakuratan respon yang ada.
  4. Berorientasi pada pengoptimalan kemampuan individu.

Berdasarkan landasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pendekatan perilaku tepat diterapkan dalam membelajarkan siswa menggunakan metode tugas terstruktur (siswa belajar menggunakan media LKS) dan metode eksperimen secara individu maupun kelompok.

Pendekatan Kognitif (Cognitive Approach)

Pendekatan kognitif (cognitive approach) dilandaskan pada:
  1. Memproposisikan bahwa keseluruhan bukanlah penjumlahan dari bagian-bagiannya. Artinya, setiap kejadian hanya dapat dipahami setelah diilhami lebih dahulu pola strukturnya, baru kemudian pada susunan unsur-unsur dan komponen-komponennya serta interelasi antar komponen dari unsur itu sehingga terbentuk gambaran mental sebagai satu kesatuan persepsi yang disebut dengan insight.
  2. Stimulus yang datang dari luar direspon sebagai aktivator kerja memori otak untuk membentuk dan mengembangkan struktur kognitif melalui proses asimilasi dan akomodasi yang terus-menerus diperbaharui, sehingga akan selalu saja ada sesuatu yang baru dalam memori dari setiap akhir kegiatan belajar.
  3. Makin tingginya penghargaan terhadap eksistensi kapasitas dari pembelajaran sebagai label penentu jenis struktur bahan belajar dan tingkat kesulitan tugas-tugas belajar yang dituntutkan kepada mereka. Artinya, siapa yang belajar dan kemampuan atau pengetahuan apa yang hendak dikuasai merupakan pertimbangan pertama. Setelah itu bagaimana catatan membelajarkan dan pada tingkat kesulitan mana kemampuan ini dituntutkan diformulasikan ke dalam program-program pembelajarannya.
  4. Berorientasi pada proses belajar dari pada hasil belajar.

Berdasarkan landasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pendekatan pembelajaran kognitif tepat diterapkan dalam membelajarkan siswa menggunakan metode tugas terstruktur, metode eksperimen, dan metode diskusi.

Pendekatan Terapan (Applied Approach)

  1. Pendekatan terapan (applied approach) dilandaskan pada:
  2. Belajar sebagai upaya untuk mendapatkan pengetahuan melalui empat tahapan kegiatan yang saling berkaitan, yaitu orientasi, latihan, umpan balik, dan fase lanjutan. Sehubungan dengan adanya fase belajar tersebut, maka dengan sendirinya ada empat fungsi pembelajaran yang harus dilaksanakan sesuai dengan tahapan belajar itu.
  3. Fungsi-fungsi pembelajaran tersebut adalah (1) memberikan orientasi tentang materi, (2) memberikan kesempatan untuk berlatih dan menerapkan materi yang dibahas pada tahapan orientasi, kemudian diikuti dengan, (3) memberikan pengertian tentang hasil belajar yang telah dicapai dalam proses belajar yang telah dilakukan, dan (4) memberikan kesempatan melanjutkan latihan.
  4. Berorientasi pada inovasi mengomunikasikan suatu konsep ilmu.
  5. Berorientasi pada proses belajar.

Berdasarkan landasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pendekatan pembelajaran kognitif tepat diterapkan dalam membelajarkan siswa menggunakan metode tugas terstruktur, metode eksperimen, metode diskusi, dan metode tugas proyek.

Metode eksperimen, dalam tiga pendekatan ini, menjelaskan bagaimana kemampuan siswa menggunakan alat dan menarik kesimpulan dari suatu data, menggambarkan perubahan-perubahan perilaku siswa dari belum tahu menjadi tahu, dari belum paham menjadi paham, dari belum mampu menggunakan alat  menjadi mampu menggunakan alat, bahkan belum mampu mengoreksi data yang diperoleh dari siswa lain menjadi mampu mengoreksi. Kesemua kata kerja operasional yang mungkin masuk dalam pembelajaran berdasarkan tujuan tersebut (yang pada dasarnya merupakan bagian dari penelitian tindakan kelas) dalam penelitian pengembangan menjadi tolak ukur menarik atau tidak menariknya suatu metode pembelajaran. Mengingat bahwa ketertarikan utama siswa dalam pembelajaran metode eksperimen adalah alat praktikum bukan lagi verbal guru maka operant conditioning menjadi begitu berperan dalam memunculkan kembali ingatan siswa pada verbal guru yang sebelumnya samar-samar didengar sehingga yang dimaksud dengan respons menjadi muncul. Dengan demikian, keberhasilan media adalah keberhasilan stimulus.

0 Response to "Kebermaknaan Belajar Dalam Sebuah Proses Pembelajaran Antara Guru Dan Siswa"

Poskan Komentar