Jarum Jam Sejarah Jangan Diputar Balik: Sebuah Refleksi Terhadap Peristiwa "Black Death" di Eropa


Jarum Jam Sejarah Jangan Diputar Balik: Sebuah Refleksi Terhadap Peristiwa "Black Death" di 
                                                                          Eropa


Ilmu pengetahuan memiliki perjalanan yang panjang dalam peradaban manusia. Karena ilmu pengetahuan ini didasarkan pada rasa ingin tahu manusia. Maka, selama manusia itu ada, selama itu pula pengetahuan akan terus berkembang. August Comte memberikan penjelasan bahwa masa perkembangan ilmu pengetahuan manusia dibedakan menjadi tiga, yakni tahap religi, kebendaan dan positif. Pada tahap religi, manusia memahami bahwa segala sesuatu telah diatur oleh kekuasaan yang tidak dapat dikendalikan oleh manusia. Sehingga postulat ilmiah yang berlaku saat itu adalah agama. Kemudian, pada tahap kebendaan, manusia mulai memikirkan objek (wujud) untuk ditelaah. Selanjutnya pada tahap positif, manusia sudah mampu mengembangkan pengetahuannya tentang sebuah objek dengan cara ilmiah. Pada tahap inilah berkembangnya ilmu pengetahuan, karena segala sesuatunya mengikuti kaidah ilmiah seperti: objektif, sistematis dan empiris.



Melalui berkembangnya ilmu pengetahuan ini, manusia mulai mengamati berbagai objek secara spesifik. Sehingga berkembanglah berbagai macam disiplin ilmu. Manusia pada akhirnya mampu menjelajahi alam, bahkan hingga ke luar angkasa dan mengungkap berbagai fenomena yang melingkupinya menggunakan ilmu pengetahuan. Dinamika ilmu pengetahuan menjadi suatu hal yang menarik untuk diselami pada saat perkembangannya. Karena ketika ilmuwan mengkaji sebuah objek dan menghasilkan sebuah disiplin ilmu tertentu, maka ketika ilmuwan lain mengkaji objek yang sama ternyata dapat menghasilkan disiplin ilmu lain yang merupakan spesifikasi dari objek tersebut. Melalui ilmu pengetahuan itu pula akhirnya manusia dapat menghasilkan teknologi. 

Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi membawa pencerahan bagi peradaban umat manusia. Karena segala sesuatunya dapat dijelaskan secara objektif dan logis, sehingga mudah dipahami oleh orang awam sekalipun. Perkembangan ilmu pengetahuan yang dilandaskan pada pengalaman-pengalaman manusia ini pada akhirnya memberikan beragam manfaat. Hal-hal yang semula dianggap mistis dan tidak diketahui asal-usulnya ataupun terjadinya maka, dengan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat dijelaskan. Sehingga secara sederhana dikatakan bahwa ilmu pengetahuan memberikan manusia kemudahan-kemudahan dalam memahami dan menjalankan aktivitas yang melingkupinya.   

Masa Kegelapan Eropa: Pembungkaman Pengetahuan Atas Nama Agama
Perkembangan ilmu pengetahuan secara umum banyak terjadi di wilayah barat dan timur tengah. Dari Eropa dan sebagian wilayah timur tengah melahirkan teori-teori keilmuan dan juga teknologi. Namun, dalam proses perkembangannya, di kawasan Eropa pernah terjadi pembungkaman terhadap aktivitas pengembangan ilmu pengetahuan. Memang pada saat yang bersamaan agama tengah berkembang di kawasan Eropa. Namun, pada awal abad pertengahan (sekitar abad ke-14) agama bukan lagi menjadi urusan individu. Melainkan, agama telah ditarik masuk ke dalam wilayah kekuasaan Negara. Negara dijalankan dengan landasan dasarnya adalah agama. Sehingga aktivitas-aktivitas yang tidak berkaitan dengan nilai-nilai keagamaan ditiadakan. Pengembangan ilmu pengetahuan pada saat itu pun dihentikan. 

Dampak dari pembungkaman ilmu pengetahuan ini adalah ketika wabah penyakit yang dikenal dengan sebutan “Black Death” melanda Eropa yang terjadi sekitar tahun 1347-1351. Penyakit ini cukup menggemparkan, karena menyerang sebagian besar warga Eropa. Secara tiba-tiba warga Eropa yang terkena penyakit ini, kulit tubuhnya menjadi menghitam dan kemudian meninggal. Hal ini menjadi pembahasan tersendiri di gereja Roma, karena pada saat itu belum diketahui penyebab dan cara pemulihan penyakit tersebut. Akhirnya, sumber yang digunakan untuk menjawab berbagai pertanyaan terkait penyakit tersebut adalah kitab suci. Para pemimpin pada saat itu beranggapan bahwa penyakit tersebut terjadi karena kemarahan Tuhan, maka cara penyembuhannya adalah dengan melakukan do’a. Namun, setelah berbagai ritual ibadah dilaksanakan penyakit tersebut tidak kunjung teratasi. 

Sumber lain menyatakan untuk bahwa yang terjadi di Eropa pada saat itu adalah saling tuduh yang diikuti dengan peristiwa pembunuhan antara orang-orang agama mayoritas terhadap agama minoritas. Orang-orang dengan agama minoritas dianggap menjadi penyebab terjadinya penyakit tersebut. Dengan berkembangnya berbagai spekulasi rupanya tetap saja misteri terkait penyakit tersebut tidak kunjung dapat terselesaikan. Pada akhirnya, berbagai pihak menyepakati bahwa penyebab penyakit tersebut harus dicari tahu dengan dasar keilmuan. 

Setelah mendapatkan izin untuk melakukan aktivitas keilmuan, maka ilmuwan-ilmuwan mencari tahu penyebab penyakit tersebut. Peneliti mengenalisis mewabahnya penyakit tersebut, yang ternyata  terjadi sejak aktivitas perdagangan tengah ramai dijalankan. Setelah dilakukan penelitian, akhirnya diketahui bahwa penyakit tersebut bernama Plague atau Sampar yang disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis yang menjangkiti manusia. Sampar barah (pestis bubonum), suatu penyakit yang sangat fatal yang dicirikan oleh rasa menggigil, demam, mual, muntah, lemah seluruh badan, dan membesarnya, memboroknya serta bernanahnya kelenjar getah bening. (Kelenjar getah bening yang membesar disebut barah; karena itulah penyakit ini dinamakan sampar barah). Sampar barah ditularkan ke manusia melalui gigitan kutu tikus (Xenopsylla cheopsis) yang terinfeksi.

Sehingga dapat dijelaskan bahwa penyakit Plague atau sampar disebabkan oleh bakteri yang hidup di bagian mulut kutu, kemudian kutu ini ternyata memiliki hospes tikus atau binatang pengerat. Manusia dapat tertular penyakit ini karena gigitan kutu Xenopsylla cheopsis karena manusia secara tidak sengaja berinteraksi dengan tikus. Akhirnya setelah diketahui penyebab penyakit ini maka, dilaksanakan pemusnahan terhadap tikus-tikus. Di samping itu, ilmuwan juga mencoba mencari penawar dari penyakit ini.

Setelah melalui masa kegelapan tersebut, dikenalah zaman Renaisans (Renaissance). Kata Renaissance sendiri merupakan terjemahan dari bahasa Perancis ke dalam bahasa Inggris “Rebrith” yang artinya terlahir kembali. Zaman ini dipahami sebagai titik berkembangnya kembali gelora keilmuan. Ilmu-ilmu sosial, ilmu alam dan seni mulai berkembang lagi pada zaman ini setelah sekian lama ilmu pengetahuan dibungkam oleh pemahaman agama yang sempit. Melalui zaman ini ilmu pengetahuan mulai dikembangkan kembali dan terus-menerus berjalan sampai hari ini.

Masa Kegelapan Eropa: Sebuah Refleksi
Melalui kejadian yang terjadi di Eropa dapatlah dipahami bahwa ketika agama dipahami secara sempit maka yang terjadi adalah kekacauan. Agama apa pun bukan hanya dipahami sebatas menjalankan aktivitas ritual semata. Melainkan agama memiliki nilai-nilai luhur yang juga perlu dipahami dan dijalankan. Untuk dapat mengilhami karunia yang diciptakan Tuhan, manusia diberikan akal budi untuk dapat berpikir, mengungkap semesta. Hal tersebut memiliki makna bahwa manusia hakikatnya adalah berpikir agar tidak buta dalam memahami segala sesuatunya.

Dengan berpikir, manusia akan semakin mengilhami ajaran agama yang dianutnya. Sehingga agama tidak dapat dipahami secara sempit sehingga membatasi ilmu pengetahuan. Namun, dengan agama dan ilmu pengetahuan yang berjalan beriringan (sesuai porsinya) maka akan semakin luhur manusia dalam menjalankan kehidupan. Dengan demikian, melakukan pengekangan terhadap sesuatu atas nama agama seharusnya dipikirkan ulang. Jangan sampai yang terjadi adalah agama direduksi pemahamannya hanya untuk menutupi sebuah hal. Sehingga dengan alasan agama, ada hal-hal yang seharusnya dipahami justru dibatasi karena alasan agama melarangnya. Padahal agama memiliki aturan-aturan yang jelas dan perlu dipahami secara mendalam agar dapat menilai suatu hal bertentangan atau tidak dengan nilai-nilai agama tersebut.  

Dalam hal ini pengkajian terhadap ilmu pengetahuan mutlak diperlukan sebagai wujud dari operasionalisasi keimanan. Peristiwa yang terjadi di Eropa memiliki kecenderungan dapat terjadi kembali pada masa ini, ketika agama dipandang sempit hanya berbatas pada menjalankan ibadah ritual semata. Jangan sampai jarum jam sejarah masa kegelapan Eropa diputar kembali, karena umat-umat beragama mempersempit pandangannya terhadap agama.

0 Response to "Jarum Jam Sejarah Jangan Diputar Balik: Sebuah Refleksi Terhadap Peristiwa "Black Death" di Eropa"

Poskan Komentar