Pengantar Metodologi Penelitian Pendidikan

Pengantar Metodologi Penelitian Pendidikan

Eureka Pendidikan. Manusia dipahami sebagai makhluk yang memiliki rasa ingin tahu. Melalui rasa ingin tahu ini, segala sesuatu yang pada mulanya tidak terungkap menjadi terungkap secara jelas. Pada mulanya, sumber pengetahuan manusia hanya didasari pada pengalaman, namun seiring perkembangan pengetahuan itu sendiri sumber pengetahuan manusia tidak lagi didasarkan pada pengalaman semata. “The major sources of knowledge can be categorized under five headings: (1) Experience, (2) Authory, (3) Deductive Reasoning, (4) Inductive Reasoning, and (5) The Scientific Approach (Ary, Donald, et al. 2010: 3)”.  

 Sebagaimana yang dikemukakan oleh Donald Ary, pada saat ini rasa ingin tahu manusia tidak hanya dapat terjawab melalui pengalaman, namun sudah melalui pendekatan ilmiah. “Exclusive use of induction often resulted in the accumulation of isolated knowledge and information that made little contribution to the advancement of knowledge. Furthermore, people found that many problems could not be solved by induction alone. In the 19th century, scholars began to integrate the most important aspects of the inductive and deductive methods into a new technique, namely the inductive-deductive method, or the scientific approach. The approach differs from the inductive reasoning in that it uses hypotheses. A hypotheses is a steatment describing relationship among variables that is tentatively assumed to be true. It identifies observations to be made to invesgate a question (Ary, Donald. 2013: 7)”. Sehingga dapatlah dipahami, bahwa sejak abad ke-19 telah dikenal pendekatan ilmiah sebagai metode baru yang digunakan untuk menjawab rasa ingin tahu manusia. Pendekatan ilmiah ini bercirikan dengan adanya hipotesis.  

Pendekatan ilmiah ini pada dasarnya dilakukan guna menjawab rasa ingin tahu manusia mengenai dinamika alam maupun sosial yang berkaitan perkembangan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, “rasa ingin tahu tersebut harus dijawab dengan jawaban yang benar melalui aktivitas penelitian. Tidak bisa atau tidak boleh hanya dengan melalui pikiran, perasaan atau perkiraan walaupun kedengarannya terasa seperti benar. Jawaban atau pernyataan ilmiah harus berdasarkan data atau sejumlah informasi yang dikumpulkan dengan sejumlah cara atau metode yang telah dinilai benar, yang disebut metodologi penelitian. Suatu pernyataan dikatakan bersifat ilmiah jika didukung oleh fakta, data yang diperoleh secara logis, rasional, empirik dan memadai. Logis dalam arti runtut alur pikirnya dalam menarik kesimpulan. Rasional maksudnya pernyataan-pernyataannya memiliki alasan atau argumentasi yang cukup kuat. Data yang memadai dalam hal ini maksudnya adalah data yang detail dari sejumlah responden atau informan dengan kriteria yang jelas dalam menopang pernyataan, sehingga dinilai cukup untuk menarik kesimpulan. (Patilima, Hamid. 2010: 5-6)”.  

Pada dasarnya, “metodologi berarti ilmu tentang metode, dan bilamana dirangkai menjadi Metodologi Penelitian, maknanya adalah ilmu tentang metode yang dapat dipergunakan dalam melakukan kegiatan penelitian. Oleh karena penelitian merupakan kegiatan ilmiah, maka metodologi penelitian dapat diartikan juga sebagai ilmu untuk mengungkapkan dan menerangkan gejala-gejala alam dan gejala-gejala sosial dalam kehidupan manusia, dengan mempergunakan prosedur kerja yang sistematis, teratur, tertib dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. (Nawawi, Hadari, dkk. 2005: 9)”. 

Lebih jauh Sugiyono menjelaskan bahwa metode penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Berdasarkan hal tersebut terdapat empat kata kunci yang perlu diperhatikan yaitu, cara ilmiah, data, tujuan, dan kegunaan. Cara ilmiah berarti kegiatan penelitian itu didasarkan pada ciri-ciri keilmuan, yaitu rasional, empiris dan sistematis. Rasional berarti kegiatan penelitian itu dilakukan dengan cara-cara yang masuk akal, sehingga terjangkau oleh penalaran manusia. Empiris berarti cara-cara yang dilakukan itu dapat diamati oleh indera manusia, sehingga orang lain dapat mengamati dan mengetahui cara-cara yang digunakan. Sistematis artinya proses yang digunakan dalam penelitian itu menggunakan langkah-langkah tertentu yang bersifat logis (Sugiyono, 2009: 2). 

Berkembangnya berbagai disiplin ilmu yang memiliki beragam karakteristik tertentu, memberikan pengaruh pada metode penelitian. Karena metode penelitian yang dipahami sebagai epistemologi atau cara yang digunakan untuk memahami suatu obyek, akhirnya turut berkembang dan menjadi lebih spesifik sesuai dengan karakteristik masing-masing disiplin ilmu. Salah satunya yang kita kenal dalam dunia pendidikan adalah metode penelitian pendidikan. 

“Metodologi penelitian dalam bidang pendidikan pada dasarnya sama dengan metodologi dalam ilmu sosial pada umumnya dan dalam ilmu pendidikan pada khususnya. Dalam ilmu sosial dikenal ada dua pendekatan, yakni pendekatan positivistik dan pendekatan naturalistik. Pendekatan positivistik merupakan pendekatan yang menekankan kepada data kuantitatif untuk menjelaskan permasalahan yang diteliti.  Misalnya, bahwa angka putus sekolah yang tinggi erat kaitannya dengan faktor ekonomi orang tu, terbukti adanya data bahwa anak-anak yang putus sekolah berasal dari keluarga yang kurang mampu. Pendekatan naturalistik merupakan pendekatan yang menekankan kepada apa sebenarnya yang terjadi di balik fakta adanya anak putus sekolah. Jika yang terbanyak adalah anak dari keluarga yang tidak mampu, apa yang sebenarnya menyebabkan mereka tetap keluar dari sekolah meskipun sudah diberi bantuan membayar iuran sekolah (Subali, Bambang. 2010: 3)”.



Melalui penjelasan yang telah dikemukakan, maka dapat dipahami bahwa metode penelitian pendidikan merupakan cara ilmiah yang dilakukan untuk mengkaji dinamika pendidikan. Sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Bambang (2010), secara umum metode penelitian pendidikan dapat dilakukan dengan dua pendekatan, yakni pendekatan kuantitatif dan pendekatan kualitatif. Namun, pada perkembangannya pendekatan kuantitatif dan kualitatif dapat digabungkan sehingga dikenal dengan mixed method. Mixed method ini mencoba memahami suatu objek atau fenomena secara menyeluruh dengan mengkombinasikan data kuantitatif dan kualitatif.

Selain itu, ada pula yang menggolongkan penelitian R&D atau Research and Development sebagai salah satu penelitian yang digunakan dalam penelitian pendidikan. Karakteristik dari penelitian ini adalah dikembangkannya atau dihasilkannya sebuah produk yang digunakan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.  

Sumber Pustaka:
Ary, Donald, et al. 2010. Introduction to Research in Education. Wadsworth: USA
Nawawi, Hadari, dkk. 2010. Penelitian Terapan. UGM Press: Yogyakarta
Patilima, Hamid. 2010. Metode Penelitian Kualitatif. Alfabeta: Malang
Subali, Bambang. 2010. Metode Penelitian Pendidikan Biologi. UNY: Yogyakarta
Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Alfabeta: Bandung

0 Response to "Pengantar Metodologi Penelitian Pendidikan"

Posting Komentar