Pengertian Mengenai Kurikulum Model Fragmented

Pengertian Mengenai Kurikulum Model Fragmented

Pengertian Kurikulum Model Fragmented

Eureka Pendidikan. Kurikulum model fragmented disebut juga kurikulum mata pelajaran terpisah (Separated Subject Curriculum). Separate-subject curriculum merupakan kurikulum yang bahan pelajarannya disajikan dalam subject atau matapelajaran yang terpisah-pisah, yang satu lepas dari yang lain. 

Organisasi subject curriculum dianggap berasal dari zaman Yunani kuno. Orang Yunani telah mengajarkan berbagai bidang studi seperti kesusasteraan, matematika, filsafat, dan ilmu pengetahuan ditambah dengan musik dan atletik. Orang romawi menerimanya dari orang yunani sambil mengadakan perubahan. Mereka mengadakan dua kategori utama yakni trivium (gramatika, retorika, dan logika) dan quadrivium (arithmetika, geometri, astronomi, dan musik), yang kemudian dikenal sebagai “the seven liberal arts” yang memberikan pendidikan umum (Nasution, 2003: 178). 

Model Fragmented (terpisah) merupakan suatu pendekatan belajar mengajar suatu mata pelajaran yang utuh tanpa mengaitkan dengan mata pelajaran lain. Seperti sebuah periskop, memandang satu arah, fokus pada setiap mata pelajaran. Hal ini dipelajari siswa tanpa menghubungkan makna/isi dan keterkaitan antara satu pelajaran dengan pelajaran lainnya (Fogarty, 1991: 4). Kurikulum ini dipahami sebagai kurikulum matapelajaran yang terpisah satu sama lainnya (separated subject curriculum) dimana matapelajaran tersebut terpisah-pisah  dan kurang mempunyai keterkaitan dengan matapelajaran lainnya (Abdullah, 2007:142).

Pendekatan mata pelajaran bertitik tolak dari mata pelajaran (subject matter) seperti Ilmu Bumi, Sejarah, Ekonomi, Ilmu Biologi, Ilmu Kimia, Ilmu Alam, Ilmu Berhitung, Ilmu Aljabar, Menyanyi, Menggambar, Olahraga, Pekerjaan Tangan, dan sebagainya. Oleh karena masing-masing pelajaran berdiri sendiri dan tidak mempunyai hubungan maupun kaitan satu dengan lainnya, maka setiap pelajaran cenderung menganggap dirinya yang paling penting (Oemar Hamalik, 2013: 32). Berikut ini merupakan gambaran mengenai model kurikulum pendekatan mata pelajaran atau fragmented  mengenai pemisahan antar pelajaran.

Dalam tabel di atas dapat dilihat bahwa antar pelajaran tidak memiliki hubungan atau dikaitkan satu sama lain. Setiap mata pelajaran diajarkan oleh guru yang berbeda dan mungkin pula ruang yang berbeda. Setiap mata pelajaran tampak sebagai suatu kesatuan dalam bidang studi itu sendiri, memiliki ranahnya masing-masing, dan tidak ada usaha untuk menyatukannya. Setiap mata pelajaran berlangsung terpisah dengan pengorganisasian dan cara mengajar yang berbeda dari setiap guru (Fogarty, 1991:4).

Dalam standar kurikulum, wilayah-wilayah subjek (bidang kajian) ini diajarkan secara terpisah, dengan tidak ada upaya untuk menghubungkan atau mengintegrasikan mereka. Masing-masing dipandang sebagai entitas murni dan berdiri sendiri. Masing-masing memiliki standar konten terpisah dan berbeda. Meskipun mungkin ada tumpang tindih antara fisika dan kimia, hubungan antara keduanya secara implisit, tidak eksplisit dan hubungan mereka tidak  didekati melalui kurikulum (Fogarty, 1991: 4). 

Pengorganisasian kurikulum ini telah dilaksanakan sejak lama hingga sekarang masih dipertahankan mulai dari SD sampai PT. Setiap mata pelajaran disusun secara terpisah satu sama lain dengan waktu yang dibatasi dan dipegang oleh guru baik oleh bidang studi maupun guru kelas (Dakir, 2004: 37).

Kurikulum matapelajaran dapat menetapkan syarat minimum yang harus dikuasai anak, sehingga anak didik bisa naik kelas. Biasanya bahan belajaran dan textbook merupakan alat dan sumber utama pelajaran (Abdullah, 2007: 142). Hal ini berarti dapat dilakukan penyeragaman materi atau bahan ajar dalam satu sekolah, bahkan satu negara.

Konsekuensi yang diterima dari penggunaan kurikulum model ini adalah anak didik harus semakin banyak mengambil mata pelajaran serta terjadi tumpang tindih konsep dari dua matapelajaran atau lebih (Abdullah, 2007: 142). Namun, melihat kenyataannya bahwa model ini telah digunakan dalam waktu yang sangat lama dan sampai sekarang masih digunakan, hal ini membuktikan bahwa hingga saat ini keuntungan yang ditawarkan model ini masih bisa menekan kekurangannnya.

Pengertian Mengenai Kurikulum Model Fragmented

Berdasarkan keterangan di atas, kurikulum dengan pendekatan fragmented (terpisah) merupakan kurikulum dimana bahan pelajaran disajikan dalam bentuk subject atau matapelajaran yang utuh tanpa ada keterkaitan dengan matapelajaran lain. Masing-masing mata pelajaran diajarkan oleh guru dan waktu yang berbeda. Selain itu, memungkin juga dilakukan dalam ruang yang berbeda pula.

Keuntungan Kurikulum Model Fragmented 


Keuntungan yang diperoleh dalam pelaksanaan kurikulum model ini adalah esensi dari masing-masing ilmu dapat disampaikan secara murni. Selain itu,  guru dapat menyiapkan bahan ajar sesuai dengan bidang keahliannya (Fogarty, 1991: 5). Oleh karenanya, guru mudah menentukan ruang lingkup bahasan yang diprioritaskan dalam setiap pengajaran. 

Selain keuntungan di atas, kurikulum model fragmented atau kurikulum separated subject juga memiliki keuntungan-keuntungan yang lainnya diantara lain adalah sebagai berikut.
  1. Bahan pelajaran dapat disajikan secara logis dan sistematis. Tiap mata pelajaran mengandung sistematik tertentu. Berhitung dimulai dengan bilangan-bilangan yang kecil kemudian meningkat pada bilangan-bilangan yang besar. Ilmu pasti mulai dengan pengertian-pengertian dasar, kemudian diberikan bentuk-bentuk yang lebih kompleks.
  2. Organisasi kurikulum ini sederhana, mudah, direncanakan, dan dilaksanakan. Dari segala macam kurikulum, kurikulum inilah yang paling mudah disusun, direorganisasi, ditambah, atau dikurangi. Hal ini dikarenakan perubahan satu mata pelajaran tidak berpengaruh pada mata pelajaran lainnya.
  3. Kurikulum ini mudah dinilai. Kurikulum ini bertujuan untuk menyampaikan sejumlah pengetahuan, pengertian, dan kecakapan-kecakapan tertentu yang mudah dinilai dengan ujian atau tes. Adakalanya bahan pelajaran ditentukan dengan menetapkan buku-buku pelajaran yang harus dikuasai untuk suatu daerah, bahkan untuk seluruh negara, sehingga dapat diadakan ujian umum yang uniform di seluruh negara.
  4. Kurikulum ini juga dipakai di perguruan tinggi. Jenjang pendidikan rendah biasanya dianggap sebagai persiapan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan diatasnya. Jenjang pendidikan tertinggi adalah perguruan tinggi. Boleh dikatakan pada saat ini setiap perguruan tinggi menggunakan organisasi kurikulum yang bersifat matapelajaranyang terpisah-pisah. Oleh karenanya, jenjang-jenjang pendidikan di bawahnya cenderung mempunyai organisasi kurikulum yang sama.
  5. Kurikulum ini telah dipakai berabad-abad lamanya dan sudah menjadi tradisi. Oleh karenanya sudah mengakar dan mendarah daging, sukar apabila menerima perubahan dalam organisasi kurikulum yang telah bertahan begitu lama.
  6. Kurikulum ini lebih memudahkan guru. Oleh karena sistem perkuliahan di perguruan tinggi menggunakan kurikulum ini, maka guru cenderung nyaman apabila mengajar ilmu pengetahuan yang sudah dikuasai sebelumnya.
  7. Kurikulum ini mudah diubah. Segala perubahan atau perbaikan kurikulum kita hingga saat ini senantiasa didasarkan pada organisasi berbentuk subject. Perubahan kurikulum dicapai dengan cara menambah atau mengurangi jumlah, isi, atau jenis matapelajaran sesuai dengan permintaan zaman.
  8. Organisasi kurikulum yang sistematis seperti yang dimiliki oleh subject-curriculum esensial untuk menafsirkan pengalaman. Organisasi ini menghemat waktu dan tenaga (Nasution, 2003: 181).

Berdasarkan uraian di atas, model fragmented menjaga agar suatu matapelajaran terjaga keaslian dan kemurniannya tidak tercampuri dengan matapelajaran yang lainnya. Oleh karena itu model ini menyiapkan seorang guru yang betul-betul pakar atau ahli di bidang matapelajaran yang ia ajarkan dan mampu mengajarkan, menggali, dan memahami materi tersebut secara luas dan mendalam. Keuntungan di atas juga memberi pengaruh besar sehingga model kurikulum ini banyak digunakan dan bertahan dalam waktu yang sangat lama.

Kerugian Kurikulum Model Fragmented 

Meskipun kurikulum ini umum digunakan dimanapun serta telah bertahan bertahun-tahun, namun adapula kelemahan yang menyebabkan kerugian dalam penggunaan model kurikulum ini dilihat dari segi pendidikan modern.

Kekurangan yang sangat menonjol dalam model ini tidak adanya penjelasan dalam keterkaitan konsep antar matapelajaran karena masing-masing matapelajaran seolah-olah terpisah satu sama lain. Selain itu, menyisakan beban kepada peserta didik untuk mengerahkan sumber daya mereka sendiri dalam hal membuat koneksi dan mengintegrasikan konsep serupa (Fogarty, 1991: 6). Oleh karena itu, seakan terjadi konsep ganda dalam pembahasan konsep yang sama dilihat dari dua matapelajaran.
Keterangan di atas selaras dengan pendapat Nasution (2003: 185), bahwa kurikulum model fragmented atau separate-subject memiliki beberapa kelemahan. Kelemahan tersebut adalah sebagai berikut.
  1. Kurikulum ini memberikan matapelajaran yang lepas-lepas, yang tidak berhubungan satu sama lain. Hal ini bertentangan dengan situasi kehidupan nyata yang saling berhubungan satu sama lain.
  2. Kurikulum ini tidak memperhatikan masalah-masalah sosial yang dihadapi anak-anak dalam kehidupannya sehari-hari. Dalam praktiknya, kurikulum ini bertujuan menyampaikan sejumlah pengetahuan yang terdapat dalam buku-buku pelajaran yang ditentukan. Seringkali bahan pelajaran itu tidak ada hubungannya dengan masalah-masalah yang dihadapi anak-anak dalam kehidupannya.
  3. Kurikulum ini menyampaikan pengalaman umat manusia yang lampau dalam bentuk yang sistematis dan logis. Perkembangan zaman menuntut adanya perkembangan ilmu pengetahuan.
  4. Tujuan kurikulum ini terlampau terbatas. Kurikulum ini mengabaikan atau kurang memperhatikan pertumbuhan jasmaniah, perkembangan sosial, dan emosional karena memusatkan tujuannya pada perkembangan intelektual dengan kurang memperhatikan situasi-situasi nyata yang dihadapi anak didik dalam kehidupan.
  5. Kurikulum ini kurang mengembangkan kemampuan berpikir. Kurikulum ini mengutamakan penguasaan pengetahuan dengan jalan ulangan dan hafalan, serta kurang mengajak anak untuk berpikir sendiri.
  6. Kurikulum ini cenderung menjadi statis dan ketinggalan zaman. Bahan pelajaran dalam kurikulum ini terutama didasarkan pada pengetahuan yang tercantum dalam buku. Adakalanya buku yang digunakan dari tahun ketahun tidak ada perubahan.

0 Response to "Pengertian Mengenai Kurikulum Model Fragmented"

Posting Komentar