Pengertian Penilaian Diagnostik

Pengertian Penilaian Diagnostik

Eureka Pendidikan. Penilaian diagnostik adalah penilaian yang bertujuan untuk mengetahui kelemahan-kelemahan siswa serta faktor-faktor penyebabnya (Suwarto, 2012: 134). Pelaksanaan penilaian semacam ini biasanya bertujuan untuk keperluan bimbingan belajar, pengajaran remedial, menemukan kasus-kasus dan lain-lain. Soal-soalnya disusun sedemikian rupa agar dapat ditemukan jenis kesulitan belajar yang dihadapi oleh para siswa.

Apabila alat  yang digunakan dalam penilaian cukup memenuhi persyaratan, maka dengan melihat hasilnya, guru akan mengetahui kelemahan siswa (Mardapi, 2012: 171). Di samping itu, diketahui pula sebab-sebab kelemahan yang ditimbulkan. Jadi dengan mengadakan penilaian, sebenarnya guru mengadakan diagnosis kepada siswa tentang kebaikan dan kelemahannya. Dengan diketahuinya sebab-sebab kelemahan ini, akan lebih mudah dicari cara untuk mengatasinya.

Fungsi penilaian diagnostik yaitu untuk mengetahui masalah-masalah yang diderita atau mengganggu peserta didik, sehingga peserta didik mengalami kesulitan, hambatan, atau gangguan ketika mengikuti program pembelajaran dalam suatu bidang studi (Subali, 2012: 138). Kesulitan peserta didik tersebut diusahakan pemecahannya.

Tujuan penilaian diagnostik yaitu, untuk membantu kesulitan atau mengatasi hambatan yang dialami peserta didik waktu mengikuti kegiatan pembelajaran pada suatu bidang studi atau keseluruhan  program pembelajaran. Aspek-aspek yang dinilai yaitu hasil belajar yang diperoleh murid, latar  belakang kehidupannya, serta semua aspek yang berkaitan dengan kegiatan  pembelajaran. Waktu pelaksanaan tes diagnostik ini, sesuai dengan keperluan pembinaan dari suatu lembaga pendidikan, dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan para peserta didiknya. Berikut dijelaskan tentang tes diagnostik.

a. Deskripsi Tes Diagnostik
Menurut Depdiknas (2007: 3) istilah diagnostik merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk mengidentifikasi gejala-gejala yang ditimbulkan. Dalam pembelajaran istilah diagnostik dapat dilakukan dalam sebuah tes. Diagnostik pada pembelajaran melingkupi konsep yang luas yang meliputi identifikasi kekuatan dan kelemahan siswa dalam pembelajaran. Suwarto (2012: 114) menjelaskan tes diagnostik merupakan tes yang digunakan untuk mengetahui kelemahan atau miskonsepsi pada topik tertentu dalam pembelajaran sehingga dari hasil tes didapat masukan tentang respon siswa untuk memperbaiki kelemahannya. Tes diagnostik merupakan rangkaian tes yang digunakan untuk mengetahui kelemahan-kelemahan peserta didik sehingga hasil tersebut dapat digunakan sebagai dasar untuk memberikan tindak lanjut berupa perlakuan yang tepat dan sesuai dengan kelemahan yang dimiliki siswa.

b. Pelaksanaan Tes Diagnostik
Tes diagnostik dilakukan guru sebagai langkah awal dalam menentukan dimana proses belajar mengajar telah atau belum dikuasai. Didalam penggunaannya tes diagnostik berusaha mengungkap karakteristik dan kesulitan apa yang ada dalam pembelajaran sehingga dapat dilakukan upaya untuk mengambil keputusan dalam mencari jalan pemecahan. Bambang Subali (2012: 23) menjelaskan keputusan melakukan tes diagnostik sebelum pelajaran dimulai pada peserta didik yakni dengan melakukan tes diagnostik pada saat sebelum pembelajaran guru dapat mengambil sikap perlu tidaknya pserta didik diberikan pelajaran ekstra agar mampu menguasai pelajaran yang sesuai prasyarat yang belum dikuasai.

c. Fungsi Tes Diagnostik
Fungsi dilakukannya tes diagnostik digunakan untuk mengidentifikasi masalah atau kesulitan yang dialami siswa,  kemudian melakukan perencanaan terhadap tindak lanjut yang berupa upaya-upaya  pemecahan sesuai masalah atau kesulitan yang telah teridentifikasi. Tes diagnostik dirancang untuk mendeteksi kesulitan hasil belajar peserta didik sehingga dalam menyusun tes diagnostik harus didesain sesuai dengan format dan respon yang dimiliki oleh tes diagnostik. Selain itu tes diagnostik dikembangkan berdasar analisis terhadap sumber-sumber kesalahan atau kesulitan yang mungkin menjadi penyebab munculnya masalah siswa, penggunaan soal-soal  tes diagnostik berbentuk supply response (bentuk uraian atau jawaban singkat), sehingga mampu menangkap informasi secara lengkap. Bila ada alasan tertentu sehingga menggunakan bentuk selected response (misalnya bentuk pilihan ganda), harus disertakan penjelasan mengapa memilih jawaban tertentu sehingga dapat meminimalisir jawaban tebakan, dan dapat ditentukan tipe kesalahan atau masalahnya,  serta tahap akhir disertai tahapan penyelesaian terhadap hasil diagnostik yang telah teridentifikasi.

d. Prosedur Pengembangan Tes Diagnostik
Suwarto (2012: 125) menyebutkan tes diagnostik dapat dilakukan dengan beberapa prosedur pengetesan diagnostik diantaranya:

  1. Harus ada analisis tertentu untuk kaidah, prinsip, pengetahuan, atau keterampilan yang hendak diukur
  2. Tes diagnostik yang baik direncanakan dan disusun mencakup setiap kaidah dan prinsip dan diujikan dengan cara yang sama
  3. Butir soal yang digunakan untuk tes diagnostik disusun secara berkelompok hal ini dilakukan untuk mempermudah analisis dan diagnostik.
Pengertian Penilaian Diagnostik metode


Sedangkan menurut Depdiknas (2007: 6) menunjukkan langkah-langkah pengembangan tes diagnostik.

a.Mengidentifikasi kompetensi dasar yang belum tercapai ketuntasannya
Dalam tes diagnostik  mengacu pada kesulitan untuk mencapai kompetensi dasar, karena itu sebelum menyusun tes diagnostik harus diidentifikasi terlebih dahulu kompetensi dasar manakah belum tercapai tersebut. Untuk mengetahui tercapainya suatu kompetensi dasar dapat dilihat dari munculnya sejumlah indikator, karena itu bila suatu kompetensi dasar tidak tercapai, perlu dilakukan diagnosis indikator-indikator mana saja yang tidak mampu dimunculkan. Mungkin saja masalah hanya terjadi pada indikator-indikator tertentu, maka cukup pada indikator-indikator itu saja disusun tes diagnostik yang sesuai.

b.Menentukan kemungkinan sumber masalah
Setelah kompetensi dasar atau indikator yang bermasalah teridentifikasi, mulai ditemukan (dilokalisasi) kemungkinan sumber masalahnya. Dalam pembelajaran sains, terdapat tiga sumber utama yang sering menimbulkan masalah, yaitu: a) tidak terpenuhinya kemampuan prasyarat; b) terjadinya miskonsepsi; dan c) rendahnya kemampuan memecahkan masalah (problem solving). Di samping itu juga harus diperhatikan hakikat sains yang memiliki dimensi sikap, proses, dan produk. Sumber masalah bisa terjadi pada masing-masing dimensi tersebut.

c.Menentukan bentuk dan jumlah soal yang sesuai
Dalam menentukan kesulitan yang dialami siswa, maka perlu dipilih alat diagnosis yang tepat berupa butir-butir tes diagnostik yang sesuai. Butir tes tersebut dapat berupa tes pilihan, esai (uraian), maupun kinerja (performance) sesuai dengan sumber masalah yang diduga dan pada dimensi mana masalah tersebut terjadi.

d. Menyusun kisi-kisi soal
Sebagaimana ketika mengembangkan jenis tes yang lain, maka sebelum menulis butir soal dalam tes diagnostik harus disusun terlebih dahulu kisi-kisinya. Kisi-kisi tersebut setidaknya memuat: a) kompetensi dasar beserta indikator yang diduga bermasalah; b) materi pokok yang terkait; c) dugaan sumber masalah; d) bentuk dan jumlah soal; dan e) indikator soal.

e. Menulis soal
Sesuai kisi-kisi soal yang telah disusun kemudian ditulis butir-butir soal. Soal tes diagnostik tentu memiliki karakteristik yang berbeda dengan butir soal tes yang lain. Jawaban atau respons yang diberikan oleh siswa harus memberikan informasi yang cukup untuk menduga masalah atau kesulitan yang dialaminya (memiliki fungsi diagnosis). Pada soal uraian, logika berpikir siswa dapat diketahui guru dari jawaban yang ia tulis, tetapi pada soal pilihan guru kurang dapat mengungkap kelemahan siswa, karena soal tes pilihan rentang terhadap tebakan. Karena itu siswa perlu menyertakan alasan atau penjelasan ketika memilih option (alternatif jawaban) tertentu. 

f. Mereview soal
Butir soal yang baik tentu memenuhi validitas isi, untuk itu soal yang telah ditulis harus divalidasi oleh seorang pakar di bidang tersebut. Bila soal yang telah ditulis oleh guru tidak memungkinkan untuk divalidasi oleh seorang pakar, soal tersebut dapat direviu oleh guru-guru sejenis dalam MGMPS atau setidaknya oleh guru-guru mapel serumpun dalam satu sekolah.

g.Menyusun kriteria penilaian
Jawaban atau respon yang diberikan oleh siswa terhadap soal tes diagnostik tentu bervariasi, karena itu untuk memberikan penilaian yang adil dan interpretasi diagnosis yang akurat harus disusun suatu kriteria penilaian, apalagi bila tes yang sama dilakukan oleh guru yang berbeda atau dilakukan oleh lebih dari satu orang guru.

Kriteria penilaian memuat rentang skor yang menggambarkan pada rentang berapa saja siswa didiagnosis sebagai mastery (tuntas) yaitu sudah menguasai kompetensi dasar atau belum mastery yaitu belum menguasai kompetensi dasar tertentu, atau berupa rambu-rambu bahwa dengan jumlah  type error (jenis kesalahan) tertentu siswa yang bersangkutan dinyatakan ber”penyakit” sehingga harus diberikan perlakuan yang sesuai.

Macam-macam tes diagnostik yang dapat digunakan diantaranya:
1.    Tes diagnostik dengan instrumen pilihan ganda
2.    Tes diagnostik dengan instrumen pilihan ganda yang disertai alasan
3.    Tes diagnostik dengan instrumen pilihan ganda yang disertai pilihan alasan
4.    Tes diagnostik dengan instrumen pilihan ganda dan uraian
5.    Tes diagnostik dengan instrumen uraian

Secara garis besar posisi tes diagnostik menduduki kapasitas dalam memantau kemajuan belajar siswa, dengan melakukan tes formatif. Tes ini disusun untuk mengukur ketuntasan belajar atau ketuntasan kompetensi minimal (KKM). Apabila dari hasil tes formatif tersebut diketahui ada siswa yang belum tuntas, maka guru melakukan tes untuk mendiagnosis kemungkinan-kemungkinan sumber masalah¬nya. Tes ini dalam diagram Gambar 2 diberi nama tes diagnostik Tipe A.

Di samping tes diagnostik Tipe A, terdapat tes diagnostik tipe lain yang  dilakukan tanpa didahului oleh tes formatif. Dugaan atas kemungkinan-kemungkinan sumber masalah muncul berdasarkan pengalaman guru. Tes diagnostik semacam ini dalam diagram Gambar 2 disebut tes diagnostik Tipe B. Pemberian tipe pada tes diagnostik dalam Gambar 2 sama sekali bukan menunjukkan tingkat prioritasnya. Bukan berarti tes diagnostik Tipe A lebih baik atau lebih penting dari Tipe B, atau Tipe A harus dilakukan sebelum Tipe B. Keduanya memiliki fungsi sama, dan guru bebas memilih mana yang akan dilaksanakan sesuai kondisi dan kebutuhan.

Dalam pembuatan kisi-kisi pencantuman komponen-komponen di atas bukan merupakan suatu yang baku, yang harus seperti itu. Penyusun kisi-kisi dapat mengurangi atau menambah komponen tersebut sesuai keperluan atau tujuan tes. Bahkan dalam ulangan yang sifatnya formatif kisi-kisi tidak perlu dirumuskan. Yang penting soal-soal yang dibuat harus memiliki keterkaitan kuat dengan indikator hasil belajar yang telah dirumuskan atau yang dipilih dari silabus yang diacu.

h. Penskoran dan Penafsiran Tes Diagnostik
Kegiatan penskoran diperlukan karena sesuatu yang diukur dengan tes diagnostik merupakan besaran non fisis yang tidak dapat diukur secara langsung sebagaimana kita mengukur panjang kayu menggunakan mistar. Penskoran tes diagnostik secara prinsip tidak berbeda dengan penskoran pada tes-tes yang lain, tetapi membutuhkan penelusuran dan interpretasi respons yang lebih cermat karena harus menemukan fungsi diagnostik.

i. Menindaklanjuti Hasil Tes Diagnostik
Kegiatan guru menindaklanjuti hasil tes diagnostik siswanya, analog dengan kegiatan pengobatan oleh dokter kepada seorang pasien setelah dilakukan serangkaian diagnosis. Tindak lanjut tersebut berupa perlakuan-perlakuan yang sesuai dengan permasalahan atau kesulitan yang dihadapi siswa. Ibarat pemberian obat, dosisnya tidak boleh terlalu rendah atau terlalu tinggi, apalagi sampai salah memberikan obat. Karena hal yang demikian justru akan memperberat atau menimbulkan masalah baru bagi siswa.

Di bawah ini diuraikan beberapa hal yang perlu diperhatikan agar dapat menindaklanjuti hasil tes diagnostik dengan baik.

  1. Kegiatan tindak lanjut dilakukan betul-betul berdasarkan hasil analisis tes diagnostik secara cermat. Tindak lanjut tidak selalu berupa kegiatan remidial di kelas, tetapi dapat juga berupa tugas rumah, observasi lingkungan, kegiatan tutor sebaya, dan lain-lain sesuai masalah atau kesulitan yang dihadapi siswa. Kegiatan tidak lanjut juga tidak selalu dilakukan secara individu, tetapi dapat juga dilakukan secara kelompok bergantung pada karakteristik masalah yang dihadapi siswa.
  2. Mengatasi permasalahan yang disebabkan oleh miskonsepsi membutuhkan kesa¬baran, keuletan, dan kecerdasan guru. Penelitian Berg (1991) menunjukkan bahwa miskonsepsi sulit bila hanya diatasi melalui informasi atau penjelasan, oleh karena itu perlu dirancang aktivitas atau pengamatan secara langsung untuk memperbaikinya.
  3. Kegiatan tindak lanjut diberikan secara bertahap dan berkelanjutan. Tes diagnostik pada hakikatnya merupakan bagian dari ulangan harian, maka pelaksanaannya juga perlu diatur sehingga tidak tumpang tindih (overlapping) dan tidak memberatkan siswa maupun guru.
  4. Perlu dirancang program sekolah yang mendukung dan memberikan kemudahan bagi guru untuk mengadministrasi, melaporkan, dan menindak-lanjuti hasil tes diagnostik, misalnya penyediaan sarana dan tenaga teknis, pemberian insentif atau penghargaan, dan program-program lain yang mendukung profesionalitas guru, misalnya lokakarya, workshop, dan penelitian yang mengangkat hasil-hasil  tes diagnostik. Selain untuk evaluasi di sekolah, bila memungkinkan hasil analisis tes diagnostik juga dikirimkan atau dilaporkan kepada orang tua siswa, sehingga secara bersama-sama dapat membantu siswa dalam memecahkan masalahnya.

Sumber Bacaan:
Badan Standar Nasional Pendidikan. (2007). Panduan Penilaian  Kelompok Mata  Pelajaran  Ilmu
       Pengetahuan dan Teknologi. Jakarta: Badan Standar Nasional Pendidikan.
Basuki, Ismet & Hariyanto. Asesmen Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Frey, Nancy & Fisher Douglas. 2011. The formative Assessment Action Plan. United States of
      America: ASCD.
Mardapi, Djemari. 2012. Pengukuran Penilaian dan Evaluasi Pendidikan. Yogyakarta: Nuha
       Medika
Nitko & Brookhart. 2011. Educational Assessment of Students. 6thEdition. United State od
      Amerika:  Pearson
Rosana, Dadan. 2014. Evaluasi Pembelajaran Sains. Yogyakarta
Subali, Bambang. Prinsip Assesmen dan Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta: UNY Press
Suwarto. 2013. Pengembangan Tes Diagnostik dalam Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sukmayadi Vidi. 2014. Mengembangkan Tes Penempatan Bagi Siswa BIPA. Bandung.
       Universitas  Pendidikan Bandung

0 Response to "Pengertian Penilaian Diagnostik"

Posting Komentar