Artikel Sejarah: Pandangan dan Peran Tan Malaka dalam Pendidikan Nasional

Prolog
Nama Tan Malaka mungkin cukup asing bagi sebagian orang.Maka, beberapa peneliti dan penulis menyebutnya sebagai “Bapak bangsa yang dilupakan”. Sebutan tersebut cukup tepat dialamatkan kepada Tan Malaka, karena diketahui bahwa Tan Malaka memiliki peran besar dalam upaya kemerdekaan Indonesia, namun namanya seperti dihilangkan karena Tan Malaka lebih dikenal sebagai bagian dari Partai Komunis Hindia atau Partai Komunis Indonesia. Nama Tan Malaka belakangan mulai terdengar lagi, juga karena kaitannya komunis.Seperti diketahui pada Maret 2016 lalu di Bandung sempat terjadi tindakan pelarangan penampilan teater monolog Tan Malaka. Karena, teater tersebut dianggap akan menghidupkan kembali paham komunisme.


Namun, sejarah telah menuliskan bahwa Tan Malaka adalah anak bangsa yang turut berperan serta bagi bangsa Indonesia. Salah satunya, pada tulisan ini berupaya menggali secara sederhana mengenai kiprah Tan Malaka dalam bidang pendidikan nasional, yang belum banyak diungkap.

Pandangan dan Peran Tan Malaka dalam Pendidikan Nasional

Tan Malaka adalah pemuda yang bercita-cita menjadi seorang guru.Ia memperoleh pendidikan keguruannya di Kweekschool Sumatera Barat dan Rijkweekschool di Harlem-Belanda. Pengetahuan serta pengalamannya menjadikannya bukan hanya menjadi siswa sekolah semata, melainkan Ia sering menuangkan kritik serta gagasannya dalam tulisan yang dimuat di media cetak Belanda dan Hindia. Salah satu tulisan Tan Malaka yang cukup menarik perhatian para pembesar Belanda adalah mengenai Politik Etis.Sebagaimana dipahami, Politik Etis merupakan politik balas budi, yang diberikan pemerintah Belanda kepada rakyat pribumi.Dalam hal ini, bentuk politik etis adalah berupa penyelenggaraan pendidikan yang diberikan pemerintah Belanda kepada rakyat pribumi.

Pada saat itu, pemerintah memang telah mendirikan berbagai sekolah di Hindia, diantaranya HIS(1), HBS(2,) ELS(3), Kweekschool(4), STOVIA(5) dan OSVIA(6).Namun, penyelenggaraan pendidikan yang dibuat oleh pemerintah Belanda, dinilai oleh Tan sebagai pendidikan yang kurang memihak pada rakyat pribumi seutuhnya. Sekolah-sekolah yang dibuat berada dalam bingkai politik etis tersebut dinilai Tan Malaka hanya akan menguntungkan pemerintah Belanda semata, karena pada akhirnya tamatan sekolah-sekolah pemerintah Belanda tersebut akan dipekerjakan pada sektor-sektor pemerintahan Belanda. Kemudian, penyelenggaraan pendidikan buatan Belanda tersebut dianggap tidak sesuai untuk rakyat Hindia.Karena pada dasarnya, “pendidikan ala Barat itu sama sekali tidak cocok diterapkan bagi anak-anak Inlander. Sebab sistem pendidikan yang bebas dan terkesan memaksa anak didik hanya akan merusak anak-anak. Membuat anak-anak kehilangan adab dan budi pekerti luhur. Sehingga anak tidak akan pernah menjadi pribadi yang mandiri, tidak memiliki daya kreativitas dan kurang memiliki inisiatif (Musyafa, 2015: 2870”. Kritik yang disampaikan secara langsung oleh Tan Malaka pada pertemuan pembesar politik etis di Belanda ini, sontak membukakan mata para pembesar Belanda yang merancang  politik etis. Namun, tidak semua pembesar Belanda menerima kritikan Tan Malaka, karena pada dasarnya penyelenggaraan politik etis berdasarkan logika untung-rugi, yang tidak memihak pada rakyat Hindia.

Seiring berjalannya waktu, semakin banyak pengetahuan dan pengalaman yang didapatkannya, Tan Malaka memiliki pemahaman yang mendalam mengenai penyelenggaraan pendidikan bagi rakyat pribumi.Tan Malaka memiliki tekat untuk mendirikan sekolah rakyat yang didirikan dan diselenggarakan oleh rakyat pribumi yang berbeda dari penyelenggaraan sekolah buatan pemerintah Belanda. Gagasan sekolah rakyat ini pertama kali disampaikan oleh Tan  Malakapada rapat para tuan besar perkebunan di Deli. Pada rapat ini, Tan Malaka selaku asisten pengawas sekolah di Deli memaparkan bahwa pembesar perkebunan perlu mendirikan sekolah bagi anak-anak buruh yang bekerja di perkebunan. TanMalaka  memaparkan bahwa, pendidikan yang diberikan pada anak-anak buruh adalah untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan serta memperhalus perasaan. Karena anak-anak kuli adalah anak manusia juga. (Tempo, 2010: 65). 

Pemahaman Tan Malaka terhadap pendirian sekolah rakyat ini, karena Tan Malaka sering menghabiskan waktu dengan para buruh perkebunan untuk berbincang-bincang mendengarkan keluh kesah para buruh.Kemudian, Tan Malaka sering mengamati perlakuan para pengawas perkebunan yang bertindak semena-mena kepada para buruh.Hal inilah yang membuat Tan Malaka meyakini bahwa melalui pendidikanlah rantai kesengsaraan rakyat pribumi dapat diputus.“Pengalamannya bergaul dengan kaum proletar ini makin memantapkan Tan Malaka bergerak di sektor Pendidikan.Menurut dia, ‘pendidikan rakyat hanya bisa diperoleh dengan pendidikan kerakyatan’.Ini semua, kata Tan Malaka, untuk menghadapi kekuasaan para pemilik modal yang berdiri atas pendidikan yang berdasarkan kemodalan (Tempo, 2010: 68)”.Namun, lagi-lagi gagasan Tan Malaka mengenai sekolah rakyat yang menyentil pembesar Belanda di Deli, tidak diindahkan. Akan tetapi, gagasan dan tekat Tan untuk mendirikan sekolah rakyat telah banyak diketahui oleh kaum intelektual pribumi, yang tertarik pada ide Tan. 

Gagasan Tan Malaka untuk membenahi kondisi masyarakat pribumi yang ditempuh melalui jalur pendidikan, pernah dituliskannya di surat kabar sehingga hal inilah yang membuat kaum intelektual mengetahui dan turut mengamini gagasan Tan Malaka. Salah satu artikel yang dimuat di surat kabar Het Vrije Woord terbitan Perhimpunan Sosial Demokrat Hindia pernah menerbitkan tulisan Tan Malaka yang berjudul Negeri Orang Melarat. Tulisan tersebut mengkaji mengenai ketimpangan antara kekayaan alam Hindia dengan kemiskinan dan kelaparan mayoritas rakyatnya. Maka, pendidikanlah yang ditunjuk oleh Tan sebagai upaya penghapusan pada ketimpangan tersebut. Artikel inilah yang kemudian mengilhami para intelektual untuk dapat bertemu dengan Tan Malaka. Akhirnya, pertemuan antara Tan Malaka, Alimin dan Semaun, mengantarkan Tan untuk mengikuti pertemuan Sarekat Islam (SI) di Semarang, dan disinilah ,untuk pertama kalinya Tan memaparkan konsep pendidikan rakyat dihadapan para inteletual Hindia secara langsung. 

Kesempatan untuk memparkan ide gagasannya tidak disia-siakan oleh Tan Malaka. Menurut Tan Malaka, pendidikan yang cocok untuk bangsa Hindia adalah pendidikan yang berbasiskan rakyat, yakni pendidikan yang sistem dan kurikulumnya menentang pendidikan kolonial yang membebek pada kapitalisme. Pendidikan rakyat sejati bertumpu pada tiga tujuan.Pertama, pendidikan keterampilan sebagai bekal untuk berkiprah dalam masyarakat kapitalis, seperti membaca, menulis, berhitung, ilmu alam dan sebagainya.Kedua, pendidikan bergaul, berorganisasi dan berdemokrasi guna membentuk karakter pemuda Hindia yang tangguh, percaya diri dan penuh harga diri.Dan ketiga, pendidikan yang cinta kepada rakyat melarat (Teja, 2016: 215).Kemudian, Tan Malaka menegaskan sekolahnya bukan mencetak juru tulis seperti tujuan sekolah pemerintah.Selain untuk mencari nafkah diri dan keluarga, sekolah ini juga membantu rakyat dalam pergerakannya (Tempo, 2010: 69).

Pada akhirnya, dengan bantuan seluruh pengurus SI, sekolah rakyat gagasan Tan Malaka didirikan di Semarang.Pada saat hari pertama pembukaan sekolah, terdapat 50 siswa yang datang untuk bersekolah.Pada hari selanjutnya, siswa bar uterus berdatangan hingga sekolah memiliki 200 siswa.Sekolah ini ditangani langsung oleh Tan Malaka sebagai perancang kurikulum. Sekolah ini pun tidak hanya menyelenggarakan pendidikan biasa dalam aktivitasnya, melainkan juga menyelenggarakan pendidikan bagi calon guru, yang juga ditangani oleh Tan Malaka. “Sekolah berjalan pagi.Sore harinya Tan Malaka mengadakan kursus untuk mencetak guru. Peserta kursus adalah murid kelas 5 dan guru yang ada dididik menjadi guru berhaluan kerakyatan (Tempo, 2010: 70)”.

Keberhasilan sekolah rakyat besutan Tan Malaka di lingkungan SI Semarang, pada akhirnya memberikan inspirasi bagi sejumlah daerah untuk mendirikan sekolah serupa.“Kabar berdirinya  sekolah rakyat di Semarang segera menyebar ke sejumlah daerah. Beberapa kota besar di Jawa mengajukan tawaran mendirikan sekolah sejenis di daerahnya. Bandung akhirnya menjadi daerah kedua yang mendirikan sekolah rakyat, setelah kader Sarekat Islam mendermakan uangnya.Di Kota Kembang itu 300 siswa baru mendaftar.Tahun-tahun berikutnya sekolah rakyat semakin banyak.Apalagi setelah alumni sekolah rakyat Semarang bertebaran di kota-kota besar Jawa (Tempo, 2010: 70)”.Salah satu sekolah kerakyatan yang berkembang adalah Tamansiswa di Yogyakarta, yang didirikan oleh Soewardi Suryaningrat atau Ki Hajar Dewantara, yang membasiskan penyelenggaran pendidikan dengan kebudayaan bangsa.Menurut Ki Hajar Dewantara, “pendidikan yang terbaik untuk anak-anak Inlander adalah memberikan ruang yang seluas-luasnya kepada mereka untuk meningkatkan potensi dirinya, kemudian mengekspresikannya dengan cara-cara yang kreatif dan bertanggung jawab sesuai dengan kemampuan masing-masing peserta didik. Maka, aku menerapkan tiga semboyan di sekolah Tamansiswa—dimana semboyan itu aku gali dari nilai-nilai khazanah Indonesia yang halus dan berbudi pekerti (Mustafa, 2015: 288)”.

Sebagai orang yang mengenyam pendidikan dan berperan dalam pendidikan nasional, Tan Malaka betul-betul menaruh perhatian pada pendidikan. Konsep pendidikan yang dirancangnya tidak hanya berwujud secara fisik dalam bentuk sekolah rakyat, melainkan juga komponen yang ada dalam penyelenggaraan pendidikan itu Ia perhatikan. Dalam buku karangannya yang berjudul Madilog, Tan Malaka pernah memberikan pandangannya mengenai proses belajar yang seharusnya dilakukan oleh siswa yang menempuh pendidikan.  Tan Malaka menuliskan, “... bahwa kebiasaan menghafal itu tidak menambah kecerdasan, malah menjadikan saya bodoh, mekanis, seperti mesin (Tan Malaka, 2014: 24)”.Melalui hal tersebut, Tan Malaka melakukan kritik terhadap penyelenggaraan pendidikan yang dialaminya, dan mungkin yang umumnya terjadi pada saat itu. Tan Malaka sangat menentang pembelajaran yang berorientasi  pada hafalan. Maka, Ia tidak ingin sekolah yang dibangunnya dan sekolah-sekolah yang ada pada bangsanya menekankan pada hafalan tanpa makna semata. Tan Malaka justru memberikan saran bahwa pembelajaran seharusnya memahami makna, kalaupun harus ada yang perlu dihafal maka dibuat sajalah “jembatan keledai” yang maksudnya adalah pemetaan informasi pada pikiran.

Apabila ditelusuri, pemahaman Tan Malaka mengenai penyelenggaraan pendidikan ini serupa dengan pemahaman yang dianut oleh Paulo Freire. Sebagaimana diketahui, dalam buku Pendidikan Kaum Tertindas, Freire secara gamblang menguraikan mengenai pendidikan yang semestinya diselenggarakan oleh kaum tertindas sendiri, sehingga kaum tertindas tahu bahwa dirinya ditindas dan untuk memutus rantai penindasan, atau dapat dikatakan sebagai pendidikan yang diselenggarakan secara buttom-up (dari bawah ke atas). Kemudian, Freire pun menolak pembelajaran yang berorientasi pada hafalan, dimana Freire menyebutnya sebagai sistem banking, yang bermakna  kepala siswa dipenuhi oleh hafalan tanpa makna.
Beradasarkan uraian yang telah dikemukakan, dapat dipahami bahwa, Tan Malaka berbagai peran dalam kemajuan bangsa Indonesia.Dalam tulisan-tulisannya, baik yang berupa artikel maupun buku, Tan Malaka mengorientasikan pikiran serta gerakannya untuk kemajuan bangsa Indonesia.Salah satunya adalah perannya dalam bidang pendidikan nasional.Walaupun dirinya seolah tidak dilibatkan ketika kemerdekaan Indonesia diproklamirkan.Namanya pun seolah dihilangkan dalam catatan sejarah, karena sebagaimana yang telah disampaikan pada prolog tulisan ini.

 Keterangan:
 Hendri Teja. 2016: 97 menjelaskan,
(1) Holandsche Indische School (HIS): Sekolah dasar bagi pribumi. Masa pendidikannya 7 tahun. 
     ijazahnya   setara belajar 3 tahun di Tweede Inlandsche School (Sekolah Ongko Loro) dilanjutkan 
     Schakel School selama 5 tahun.
(2) Hogere Burger School (HBS): gabungan sekolah menengah (SMP dan SMA) untuk warga Eropa
      dan elit pribumi. Menggunakan bahasa Belanda sebagai pengantar. Masa pendidikannya 5 tahun.
      Sekolah untuk pribumi berstrata sosial lebih rendah adalah Meer Utgebreid Lager Onderwijs
      (MULO) setara SMP, dan Algeemene Midlebare School (AMS) setara SMA.
(3) Europesche Lagere School (ELS): sekolah dasar bagi warga elit Eropa. Sebermula pribumi dan
      warga Tionghoa diberi kesempatan, tetapi karena dituding menyebabkan jumlah murid di HIS
       merosot, ELS kembali dikhususkan untuk warga Eropa. 
(4) School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA): sekolah tinggi kedokteran. Berdiri tahun
     1853 di Jakarta. Pada tahun 1942 berganti nama menjadi Geneeskudige Hooge School. Sekarang
     gedungnya di Fakultas Kedokteran UI Salemba Jakarta.
(5) Opleiding School voor Indlandsch Ambtenaren (OSVIA): Sekolah Tinggi Pangrehpraja.
      Didirikan di Bandung pada 1879. Sekarang gedungnya menjadi IPDN Jatinangor, Bandung.



Kepustakaan
Haidar Musyafa. 2015. Sang Guru. Jakarta: Mizan Media Utama.
Hendri Teja. 2016. Tan. Tangerang: Javanica.
Paulo Freire. 2008. Pendidikan Kaum Tertindas (Judul asli: Pedagogy of the Oppressed). Jakarta: 
       LP3ES.
Tan Malaka. 2014. Madilog (Materialisme, Dialektika dan Logika). Yogyakarta: Narasi.
Tempo. 2010. Tan Malaka (Bapak Republik yang Dilupakan). Jakarta: PT Gramedia.









0 Response to "Artikel Sejarah: Pandangan dan Peran Tan Malaka dalam Pendidikan Nasional"

Posting Komentar