Contoh Esai Argumentatif: Sebuah Tinjauan Terhadap Perempuan, Penjajahan dan Peranannya Hari Ini

Esai Argumentatif: Sebuah Tinjauan Terhadap Perempuan, Penjajahan dan Peranannya Hari Ini 

Ringkasan
Berbicara mengenai perempuan tidak pernah lepas dari isu kesetaraan gender. Berbagai kebijakan atas nama apapun dianggap telah memasung hak perempuan, sehingga perempuan tidak memperoleh jaminan kehidupan yang aman, serta tidak mampu mengembangkan potensinya untuk berkarya.  Hal inilah yang akhirnya memunculkan berbagai gerakan yang membela hak perempuan. Perlawanan yang dilakukan sedikit banyak telah membukakan mata dunia, bahwa perempuan adalah juga manusia dan memiliki hak untuk memperoleh kehidupan yang baik. Apabila pada masa lalu, perempuan dijajah oleh kesemena-menaan, pada dewasa ini perempuan juga masih dijajah. Penjajah kaum perempuan adalah produk fashion dan kosmetik. Perempuan yang telah diberi keleluasaan, justru saat ini masih ada yang terjebak untuk mempercantik dirinya, dari pada sibuk menghasilkan karya. Pemahaman akan hak perempuan, tidak dapat dilihat dari kacamata yang sempit. Untuk dapat memahami bagaimana peran serta perempuan hari ini, maka perempuan harus memahami kodrat dan potensi yang ada padanya. 



Perempuan memiliki cerita tersendiri dalam panggung peradaban Di balik keagungannya, sejarah perempuan di beberapa belahan dunia menyimpan cerita yang memilukan. Hal tersebutlah yang kemudian menjadi latar belakang beberapa tokoh untuk memperjuangkan hak perempuan, yang umumnya dikenal dengan gerakan feminisme. 

Penyetaraan hak antara perempuan dan laki-laki masih digaungkan sampai hari ini. Hal tersebut dilakukan karena masih saja terjadi perbuatan semena-mena yang dilakukan terhadap perempuan. Namun, banyak hal yang perlu ditafsir ulang mengenai status perempuan pada dewasa ini. Berbicara mengenai perempuan dewasa ini, perlulah mengkajinya dengan lebih luas, sehingga akan lebih dipahami apa yang terjadi dan apa yang perlu dipahami mengenai perempuan hari ini. 

Dalam sebuah artikel, Ki Hadjar Dewantara mengingatkan mengenai kodrat perempuan. Dengan bahasa yang sangat menyentuh, Ki Hajar mengingatkan mengenai perempuan dengan titahnya yang sangat indah. “Sebenarnya hidup perempuan itu semata-mata mengandung lambang kesempurnaan hidup manusia di dunia. Dalam hidup perempuanlah kita lihat segala tanda-tanda dan petunjuk atas wajib kita manusia hidup selaku makhluk Tuhan di dunia. Dalam hidup perempuan dapatlah kita insafi firman Tuhan atas hidup kita” (Ki Hajar Dewantara, 1928). Namun, kodrat perempuan tersebut sering disalah artikan, sehingga kehidupan perempuan seolah-olah tidak berarti dan sangat terbatas hingga tidak ada kesempatan untuknya untuk dapat mengembangkan potensinya. 

Pada panggung peradaban masa lalu, kisah tentang perempuan berada pada bagian yang memilukan. Di beberapa wilayah dan kebudayaan bangsa, perempuan seolah-olah berada pada kasta yang rendah hingga dapat dikuasai dan diperlakukan semena-mena. Berikut ini kutipan dari Kiyai Husein dalam buku Buya Syafii Maarif (2009: 178) yang menggambarkan kondisi perempuan pada masa lalu, “.... Lihat, betapa kaum perempuan di banyak tempat, bukan hanya teralienasi dari panggung sejarah kemaanusiaan, tetapi malahan menjadi korban struktur peradaban yang patriarkhis. Diskriminasi, marjinalisasi dan kekerasan masih terus menghantui dan merangkap mereka dari segala penjuru dan dari banyak ideologi dan sistem sosial patriarkhis. Dalam banyak hal tafsir-tafsir manusia atas agama, ikut serta mengokohkannya. 

Beberapa perubahan memang telah berhasil dilaksanakan, seperti di tanah Arab. Munculnya agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad, telah memberikan angin segar bagi kehidupan perempuan Arab yang selama ini hidupnya seolah tidak berarti. Pemahaman yang diberikan oleh kitab suci telah mengubah sedikit demi sedikit hidup perempuan. Namun, hal tersebut belum terjadi secara massif, bahkan banyak yang menafsirkan secara keliru mengenai posisi perempuan dalam islam, sebagaimana yang telah diuraikan. Potret memasung hak perempuan masih terjadi di kebudayaan bangsa lain, seperti pada budaya Jawa. 

Perempuan di Jawa seolah-olah tidak diperkenankan memiliki wawasan yang luas dalam bidang keilmuan, wawasan yang perlu diketahui perempuan Jawa hanyalah seputar kehidupan berumah tangga. Berikut ini Kartini menceritakan kondisinya pada saat usianya menginjak 12 tahun dengan sudut pandang orang ketiga yang dipaksa keluar dari sekolah untuk menjalani prosesi pingitan (Toer, 2003: 67). 

Si gadis kecil berumur 12,5 tahun sekarang, dan tibalah masa baginya untuk mengucapkan selamat jalan bagi kehidupan bocah yang ceria; meminta diri pada bangku sekolah yang ia suka duduk di atasnya; pada kawan-kawannya di Eropa, yang ia suka berada di tengah-tengahnya. Ia telah dianggap cukup tua tinggal di rumah, hidup dalam pengucilan yang keras dari dunia luar sedemikian lama, sampai tiba masanya seorang yang diciptakan Tuhan untuknya datang menuntutnya serta menyeretnya ke rumahnya. 

Kartini belia juga menuangkan kekecewaan dan kesedihannya ketika harus ditarik masuk ke rumah dan melalui hari-hari tanpa bersekolah lagi. Dalam suratnya, ia sangat menyayangkan nasibnya yang tidak dapat lagi menambah ilmu pengetahuan, bidang yang amat dicintainya. (Toer, 2003: 68).

Dia tahu benar, bahwa pintu sekolah yang memberi jalan pada banyak hal yang dicintainya, telah tertutup baginya. Perpisahan dari guru-gurunya tercinta yang bicara padanya begitu manis dan manis sewaktu ia hendak pergi; dan kawan-kawan kecil, yang menjabat tangannya dengan mata berlinangan; dan tempat dimana ia telah lewatkan jam-jam yang sedap, sangatlah berat baginya. Tapi semua ini belum berarti dibandingkan duka cita karena harus mengakhiri pelajarannya. Ia begitu bersemangat belajar, dan ia tahu, bahwa tiada batasnya banyaknya yang dapat dipelajarinya di luar yang dapat dipelajarinya dari sekolah rendah. Ia seorang yang gila hormat; di dalam hal “kecakapan” dia tidak mau kalah dari kawan-kawannya kulit putih, yang berangkat ke Eropa; atau dari abang-abangnya yang mengunjungi sekolah HBS. 

Melalui uraian yang dikemukakan oleh Buya Syafii dan Kartini, dapatlah diperoleh gambaran bahwa di beberapa belahan dunia, kehidupan perempuan masih sangat diskriminatif. Pengkerdilan peran perempuan atas nama agama dan sosial budaya sudah terjadi pada masa lalu dan terjadi dalam tempo yang lama. Sehingga sangat sedikit perempuan yang dapat mengembangkan dirinya. 

Namun, di belahan bumi yang lain, akan dapat ditemukan perempuan-perempuan yang memiliki kesempatan menggali potensi dirinya. Dengan segala keinsyafannya dan juga dengan kodrat peduli yang dimilikinya, ia menjelma menjadi perempuan yang cerdas dan peduli pada kaumnya yang tidak memiliki kesempatan sepertinya. Akhirnya muncul berbagai gerakan yang mengutuk diskriminasi terhadap perempuan dan meminta adanya penyetaraan hak antara perempuan dan laki-laki. Gerakan yang membela kaum perempuan ini, umumnya dikenal dengan gerakan feminisme. 

Feminisme digaungkan dengan harapan dapat membuka mata dunia, bahwa ada makhluk bernama perempuan yang memiliki hak hidup yang sama dengan laki-laki. Sehingga diskriminasi dan tindakan semena-mena terhadap perempuan harus dihilangkan. Perempuan perlu diberi hak dan kesempatan yang sama untuk dapat berpartisipasi dalam kemajuan dunia, perempuan perlu diberi kesempatan untuk menimba ilmu dan berkarya. 

Selain gerakan yang digalakan oleh perempuan di dunia barat dengan perspektif keilmuan, gerakan yang membela kaum perempuan pun dilakukan oleh pemikir muslim dengan tinjauannya berdasarkan perspektif agama islam. “Untunglah pada abad ke 20 yang lalu telah muncul beberapa pemikir perempuan muslim yang berani mengoreksi dominasi laki-laki atas perempuan dengan dalil-dalil agama yang kuat. Di antara mereka itu adalah Prof. Riffat Hassan (kelahiran 1943 di Lahore), doktor dalam filsafat Islam di Universitas Durham, Inggris. Riffat adalah di antara pejuang feminisme yang paling lantang di dunia dari sudut pandang islam. 

Riffat menyatakan, The more I saw the justice and compassion of God reflected in the Qur’anic teachings regarding women, the more anguish and angry I became at seeing the injustice and inhumanity to which Muslim woman in general are subjected in actual life. Berdasarkan kenyataan pahit di atas, Riffat mengusulkan agar ditulis diskursus tentang teologi Perempuan Dalam Islam. Alasannya sangat jelas karena sumber-sumber tentang tradisi Islam yang dikatakan berdasarkan Al-Qur’an, literatur hadist dan fiqih hanya ditafsirkan oleh kaum lelaki dengan pongahnya menentukan status perempuan yang umumnya buta huruf itu dalam ranah ontologi, teologi, sosiologi dan eskatologi (Maarif, 2009: 181)”.

Menurut Riffat Hasan, masih saja terjadi diskriminasi terhadap perempuan bahkan dengan menggunakan dalil agama. Sebagaimana diketahui, apabila sudah berkaitan dengan agama dan kepercayaan, orang akan sangat sulit mempertanyakan dan menentang kebijakan yang ada. Inilah yang dilihat oleh Riffat, bahwa telah terjadi pengkrucutan peran perempuan dengan menafsirkan dalil secara sepihak. 

Adanya gerakan feminisme, sedikit banyak memberikan pemahaman yang baru pada masyarakat mengenai peran perempuan. Saat ini telah banyak masyarakat yang memahami akan peran perempuan sehingga ada beberapa aspek yang dapat disentuh oleh perempuan. Banyak perempuan juga yang mampu mengembangkan potensinya hingga mampu menunjukkan prestasinya. Walaupun masih saja ada diskriminasi pada perempuan di berbagai wilayah atas nama tertentu.

Penjajahan Perempuan Hari Ini: Masihkah Isu Kesetaraan Gender (?)   

Sebagaimana yang telah dikemukakan, gerakan feminisme ada karena terjadinya penjajahan terhadap kehidupan perempuan. Sehingga banyak perempuan yang tidak dapat mengenyam pendidikan dan tidak mampu mengembangkan potensi dirinya. Pada saat ini, isu kesetaraan gender masih terus digaungkan karena di sejumlah negara masih belum menjamin kesetaraan hak laki-laki dan perempuan. “Di banyak negara, sistem hukum nasional belum menjamin kesetaraan kedudukan perempuan dan laki-laki. Perempuan harus sering lebih lama dari laki-laki dalam sehari dan banyak karya mereka yang belum dihargai, diakui dan memperoleh apresiasi yang sangat rendah. Selain itu, masih banyak perempuan yang mengalami ancaman kekerasan dari sejak lahir sampai akhir hayat (Hermawati, et.al., 2006: 77). 

Namun, isu kesetaraan gender pada hari ini sepertinya perlu ditinjau ulang dan dilihat lebih luas. Apakah isu kesetaraan gender menjadi satu-satunya topik yang perlu disadarkan oleh berbagai pihak sebagai bentuk penjajahan terhadap perempuan hari ini?.  Karena di sisi lain, telah banyak negara yang memberikan kewenangan pada perempuan untuk dapat mengembangkan potensinya dan mengukir karya. Melalui hal ini, perempuan perlu mengevaluasi eksistensinya. Karena sebenarnya yang menjajah perempuan bukanlah kekangan laki-laki atau kebijakan yang berlaku, melainkan perempuan telah diserang oleh gaya hidup dengan segala produknya. 

Gencarnya berbagai produk dan gaya hidup masyarakat khas kota yang menyerang perempuan dapat terjadi karena bergesernya paradigma masyarakat mengenai sosok perempuan. Dewi Candaningrum, seorang redaktur dari Jurnal Perempuan pernah mengutarakan bahwa, “pada abad modern, pandangan masyarakat atas tubuh dan seksualitas telah bergeser. Perempuan dijajah di mal dan supermarket. Kecantikan mereka didikte oleh produk kosmetik dan fashion, bukan diukur dari integritas dan karya”. Melalui kutipan tersebut dapat dipahami bahwa, perempuan masih dijajah sampai saat ini. Namun, bentukan penjajahannya telah berubah. Secara sadar atau tidak sadar, perempuan lebih menghargai kecantikan, sehingga ia membiarkan dirinya dijajah oleh fashion

Soe Hok Gie sebagai salah satu aktivis pernah menyatakan bahwa apabila yang dipikirkan perempuan hanyalah baju dan kecantikan, maka perempuan akan selalu ada di bawah laki-laki. Karena jika hal prioritas bagi perempuan hanyalah produk fashion dan kosmetik, maka keleluasaan yang diberikan pada perempuan, tidak akan digunakan untuk mengembangkan potensinya dan menciptakan karya, melainkan perempuan akan terjebak ke dalam hal yang sebenarnya merendahkan juga posisinya. Perempuan beranggapan, akan semakin dihargai bila dirinya cantik dan modis, bukan perempuan yang mampu memiliki peran dan pengaruh pada lingkungan atas sikap dan karyanya. Pada akhirnya, gerakan feminisme yang digaungkan menjadi salah diartikan. Perempuan dberikan ruang publik, justru bukan untuk mengembangkan dirinya melainkan digunakan untuk memenuhi kebutuhan fashion dan kosmetiknya, untuk mempercantik dirinya. 

Seharusnya perempuan dapat memanfaatkan keleluasaan di ruang publik yang diberikan padanya untuk berkarya. Salah satu bentuk dari peran perempuan dapat diketahui pada gerakan yang dilakukan pada tanggal 22 Desember di tahun 1928. Pada saat itu, perempuan muda berkumpul untuk menyuarakan aspirasinya mengenai hak perempuan dan kepedulian perempuan terhadap kaum sesama perempuan. 

Sejarah mencatat kesadaran untuk merdeka dan peningkatan kesejahteraan hidup rakyat dimiliki oleh segenap anak bangsa, termasuk kaum perempuan. Bukti dari peran perempuan yang turut serta memikirkan hak bangsanya adalah munculnya berbagai organisasi wanita yang tujuannya memperjuangkan hak rakyat pribumi, terutama hak perempuan dan anak-anak. Untuk mengkrucutkan orientasi perjuangan perempuan Indonesia, seluruh organisasi wanita yang ada bersatu dan menyelenggarakan kongres dengan nama Kongres Perempuan Indonesia. Kongres Perempuan Indonesia I diselenggarakan pada 22 Desember 1928. Beberapa hal yang diperoleh dari kongres ini diantaranya(Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, 2011: 37) : 

1.    Mendirikan Badan Federasi bersama “Perserikatan Perkumpulan Perempuan Indonesia”
2.    Menerbitkan surat kabar, yang redaksinya dipercayakan kepada pengurus PPPI.
3.    Mendirikan Studie Fonds yang akan menolong gadis-gadis yang tidak mampu.
4.    Memperkuat pendidikan kepanduan putri.
5.    Mencegah perkawinan anak-anak.
6.    Mengirimkan mosi kepada pemerintah (Hindia Belanda), agar:
       a.    Secepatnya diadakan fonds bagi janda dan anak-anak
       b.    Tunjangan bersifat pension jangan dicabut
       c.    Sekolah-sekolah putri diperbanyak
7.    Mengirimkan mosi kepada Raad agama agar tiap talak dikuatkan secara tertulis sesuai dengan  
       peraturan agama

Peristiwa tersebut memberikan andil besar bagi warna kemerdekaan Indonesia. Untuk mengenang jasa perempuan dalam upaya perjuangan bangsa, tanggal 22 Desember dijadikan sebagai hari ibu. Hal trsebut dilakukan agar perempuan insyaf bahwa perempuan memiliki peranan yang besar, bukan hanya berkutat pada kecantikan secara fisik. Ruang publik yang diberikan pada perempuan seharusnya digunakan perempuan untuk berkarya bahkan untuk berperan serta bagi kemajuan kaumnya. Karena sebagaimana yang telah dikemukakan, bahwa masih ada pihak yang belum berpihak pada kemajuan perempuan. Perempuan dipasung untuk sekedar cantik secara fisik. 

Perempuan Hari Ini

Pada saat ini telah banyak juga perempuan yang menggunakan haknya dengan bijaksana. Perempuan dengan jenjang pendidikan tinggi, telah mampu berperan serta dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Walaupun jumlahnya  masih lebih rendah, namun telah banyak perempuan yang mampu menunjukkan prestasinya dalam bidang yang digelutinya. 

Ketepatan perempuan dalam memanfaatkan haknya secara maksimal, yang ditunjukkan dengan karya yang dihasilkannya, telah memberikan manfaat bagi berbagai pihak. Selain itu, penelitian dan kajian seputar perempuan pun telah banyak dilakukan oleh sesama perempuan. Hal ini tentu saja perlahan-lahan akan membuka mata publik mengenai hak perempuan yang masih dipasung atas nama sosial budaya ataupun agama yang disalah artikan. Data yang diperoleh secara ilmiah tersebut diharapkan akan mempengaruhi kebijakan untuk semakin pro terhadap hak perempuan. 

Selain itu, di pelosok-pelosok desa juga dapat ditemukan perjuangan sesama perempuan yang berupaya memberdayakan perempuan lainnya yang ada di lingkungannya. Hal tersebut dilakukan agar perempuan dapat memiliki pengetahuan yang cukup dalam membangun rumah tangga dan juga berkarya. Karena pada dasarnya, perempuan adalah juga manusia yang sama dengan laki-laki, perempuan memiliki berbagai potensi dan kemampuan yang dapat diasah dan diarahkan untuk menghasilkan karya. 

Perempuan memiliki kompetensi yang sama dengan laki-laki untuk mengembangkan diri. Namun sebagaimana yang diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantara, perempuan memiliki sisi yang hanya dimiliki perempuan, pun juga dengan laki-laki. Hal tersebutlah yang kemudian salah dipahami, untuk disetarakan. Laki-laki memiliki kemampuan fisik lebih kuat dari perempuan, maka kodrat utamanya adalah mencari nafkah. Sedangkan perempuan secara mayoritas memiliki kemampuan fisik yang tidak lebih kuat dari laki-laki, namun perempuan memilki sifat halus yang dibutuhkan untuk mengurus keluarga. Sebagaimana diketahui bahwa keluarga juga adalah hal yang penting, karena merupakan organisasi sosial terkecil yang akan mempengaruhi kemajuan masyarakat.  

Ki Hajar Dewantara menyebutkan bahwa antara laki-laki dan perempuan memiliki kodrat masing-masing sehingga jika disatukan akan saling melengkapi. Pemahaman kesetaraan gender yang digaungkan oleh dunia barat, bagi Ki Hajar Dewantara adalah tidak sepenuhnya benar. Hak perempuan memang perlu diperjuangkan, agar perempuan dapat terjamin mendapat kehidupan yang layak, perlakuan yang layak dan kesempatan untuk berkarya dengan leluasa. Namun, kesemuanya disesuaikan dengan kondisi kodratinya, seperti kondisi fisiknya, sifat dasarnya. Hal inilah yang perlu dipahami oleh perempuan hari ini. 

Perempuan hari ini sudah semestinya memahami kodratinya dengan lebih objektif. Kemudian yang perlu dilawan adalah kesempatan untuk mengembangkan potensi diri dan menghasilkan karya. Sudah semestinya, hak yang diberikan pada perempuan digunakan untuk berkarya dan menghasilkan manfaat bagi masyarakat sekitar, dengan tidak melupakan kodratnya sebagai madrasah utama bagi anak-anaknya dan juga penjaga keluarga agar tetap berada dalam naungan kasih sayang. 

Roman Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisybahna memberikan pemahaman yang bijaksana mengenai peran serta perempuan. Perempuan yang menghargai dirinya, tidak hanya  dipersempit dengan yang aktif di ruang publik, seperti berorganisasi dan memikirkan kongres demi kongres atau karir dan karir. Sutan Takdir Alisyabahna memberikan contoh sosok Ratna, sebagai perempuan yang sebelum menikah sangat aktif dalam berbagai kongres, perempuan yang lantang mengemukakan gagasannya di forum, hingga semua orang terkesima dan memperkirakan bahwa Ratna akan menjadi pimpinan kongres yang lebih besar lagi. 

Namun, ternyata ketika telah menikah, Ratna memilih tinggal di desa terpencil hidup sederhana bersama suaminya. Ratna bukan berubah menjadi seorang pragmatis, melainkan ia telah sampai pada puncak pemahaman yang tinggi mengenai kodrat dan potensi perempuan. Di sela-sela kehidupan hariannya, Ratna masih aktif menulis di surat kabar maupun majalah untuk menuangkan gagasan-gagasannya yang masih tajam. Ia tahu betul bahwa masih banyak yang dapat ia kemukakan bagi perbaikan kehidupan perempuan, salah satunya dengan menulis. Menulis menjadi senjata untuk bagi Ratna untuk memberikan pemahaman pada dunia mengenai perempuan. Sosok Ratna mengajarkan bahwa kodratnya tidak pernah memasungnya untuk berkarya.  Ratna mengupayakan dapat menjalankan kodratnya dengan juga menghasilkan karya melalui gagasan-gagasan yang cemerlang.
 
Melalui hal tersebut dapat dipahami bahwa yang harus diilhami perempuan hari ini adalah kodrat dan potensinya. Perempuan yang memilih untuk berkarya dan berkarir secara totalitas di ruang publik perlu memiliki peran serta juga bagi keluarga dan lingkungannya. Perempuan berkarir tidak hanya menjebakan diri dalam dunia fashion dan kosmetik. Karena banyak hal yang dapat perempuan lakukan. Demikian pula dengan perempuan yang lebih memilih berada secara total di ruang domestik, tidak dapat dipandang sebelah mata. Perempuan masih dapat berkarya dan menghasilkan berbagai manfaat bagi lingkungan, baik dengan menulis atau dengan menghasilkan hal lain. Karena pada saat ini telah banyak media untuk menyalurkan kemampuan diri, baik dalam menghasilkan karya tulis maupun menghasilkan produk bermanfaat. Hal tersebut semata-mata dilakukan sebagai wujud perempuan menghargai dirinya. Jika perempuan menghargai dirinya yang dibuktikan dengan karya yang dihasilkan, maka publik juga akan menaruh penghargaan yang tinggi terhadap perempuan atas karyanya, dan bukan karena kondisi fisiknya semata.  

Sumber Pustaka
Ahmad Syafii Maarif. 2009. Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan. PT Mizan 
      Pustaka: Bandung.
Kementeriaan Kebudayaan dan Pariwisata. 2011. Buku panduan Museum Perjuangan 
       Yogyakarta: Yogyakarta.
Pramoedya A. Toer. 2003. Panggil Aku Kartini Saja. Lentera Dipantara: Jakarta.
Sutan takdir Alisybahna. 1993. Layar Terkembang. Balai Pustaka: Jakarta.
Wati Hermawati, Achi S. Luhulima & Sjamsiah Achmad. 2006. Penghapusan Kesenjangan Gender 
        dalam Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Komitmen abad XXI. Berita Iptek. LIPI: Jakarta.
“Warsita” Desember 1928 Sumber: Ki Hadjar Dewantara II. 2013. Ki Hadjar Dewantara 
         (Pemikiran, Konsepsi, Keteladanan, Sikap Merdeka). Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan 
          Taman Siswa.

 

0 Response to "Contoh Esai Argumentatif: Sebuah Tinjauan Terhadap Perempuan, Penjajahan dan Peranannya Hari Ini "

Posting Komentar