Kenakalan Remaja: Masuk Ke Dalam Kelompok Rusak dan Amburadul

Kenakalan Remaja: Masuk Ke Dalam Kelompok Rusak dan Amburadul

Eureka Pendidikan. Dalam kamu besar bahasa Indonesia, teman memiliki makna sahabat, kawan, bekerja bersama, lawan berbicara, atau seseorang yang menjadi pelengkap. Teman bisa menjadi seseorang atau sekelompok orang yang selalu berada di samping individu yang akan memberikan warna pada individu tersebut. 

Kelompok yang terbentuk pada masa remaja selalu berbentuk informal dan lebih heterogen dibandingkan kelompok yang terbentuk pada masa kanak-kanak. Santrock menyatakan bahwa bentuk pertemanan yang dilakukan di kalanagn remaja cenderung berkelompok-kelompok bahkan di dalam di kelas sendiri kecenderungan membentuk kelompok akan mudah teramati. Pertamana dalam kelompok-kelompok ini memiliki ikatan yang kuat karena ada kesamaan misi yang terbentuk secara alami seiring dengan berjalannya waktu. 

Elizabeth B. Hurlock membagi pengelompokan sosial remaja dalam beberapa kategori, diantaranya
  1. Teman dekat, remaja biasanya mempunya dua atau tiga orang teman dekat atau sahabat karib. Teman dekat ini biasanya terbentuk antara anak dengan jenis kelamin yang sama.
  2. Kelompok kecil, biasanya terdiri dari kelompok teman-teman dekat. Pada mulanya terdiri dari teman yang sesama jenis, tetapi kemudian meliputi teman yang berlainan jenis.
  3. Kelompok besar, terdiri dari beberapa kelompok kecil dan teman dekat. Karena kelompok ini jumlah anggota kelompoknya besar, maka penyesuaian minat berkurang dan terdapat jarak sosial yang lebih besar diantara anggotanya.
  4. Kelompok yang terorganisir, kelompok yang dibina oleh kelompok dewasa dan dibentuk oleh sekolah dan organisasi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sosial.
  5. Kelompok geng, remaja yang tidak termasuk dalam kelompok besar dan merasa tidak puas dengan kelompok organisasi mungkin akan mengikuti kelompok geng. Anggota geng biasanya terdiri dari anak-anak berjenis kelamin sama dan minat utama mereka adalah untuk menghadapi penolakan teman-teman melalui perilaku antisosial.

Peran Pembentukan Kelompok 

Remaja bergabung dengan kelompok karena mereka akan memiliki kesempatan untuk menerima penghargaan, baik yang berupa fisik maupun psikis. Tiap kelompok remaja memiliki dua hal umum yang sama pada kelompok yang lain yaitu norma dan peran. Keduanya menentukan bagaimana remaja harus bertingkah laku dalam kelompok tersebut.
Indikator kelompok negatif
  • Bersifat informal
  • Terstruktur.
  • Kegiatannya bersifat destruktif
  • Adanya penolakan dan pengabaian teman
  • Mengabaikan nila-nilai dan kontrol orang tua
  • Etnosentrisme atau superior terhadap kelompok sendiri
Makalah tentang kenakalan remaja dan kelompok remaja
Ilustrasi Kenalan Remaja - Thetanjungpuratimes.com

A. Prestasi

Ahmadi menjelaskan bahwa prestasi sebagai berikut: Secara teori bila sesuatu kegiatan dapat memuaskan suatu kebutuhan, maka ada kecenderungan besar untuk mengulanginya. Sumber penguat belajar dapat secara intrinsik (nilai, pengakuan, penghargaan) dan dapat secara ekstrinsik (kegairahan untuk menyelidiki, mengartikan situasi).

Prestasi belajar adalah hasil yang didapatkan peserta didik dari usahanya, baik dan buruk suatu prestasi belajar, tergantung pada usaha yang dilakukan siswa tersebut. Siswa akan disebut berptestasi apabila mampu menunjukan nilai-nilai keberhasilan dalam belajarnya.

Pola Pergaulan terarah bisa merujuk peserta didik pada prestasi yang cukup baik karena dalam pola pergaulan ini tidak melanggar norma-norma yang berlaku di dalam masyarakat. Sedangkan dalam Pola Pergaulan Bebas ( tanpa aturan ) bisa mengarahkan peserta didik pada prestasi yang jelek karena dalam pergaulan ini, peserta didik cenderung mempunyai fikiran dan tingkah laku yang negatif. Contoh seorang peserta didik yang bergaul dengan orang yang tak berpendidikan akan mengakibatkan siswa tersebut cenderung ikut pada teman sepergaulannya itu.

Semakin bebasnya pergaulan dikalangan remaja saat ini banyak memberikan dampak negatif . Pola pikir mereka semakin tidak terarah. Apalagi terjadi pada anak prestasi yang tadinya bagus bisa turun karena mereka tidak bisa mengontrol diri. Seorang anak akan jadi sering main-main saja sehingga mereka malas untuk belajar. Dan akibatnya si anak akan berkurang prestasinya.

Hal ini karena tidak adanya benteng dari keluarga . Keluarga tidak mampu membimbing anaknya sehingga lepas dari pengawasan. Untuk itu seorang anak perlu pengawasan lebih lanjut dari orang tua agar anaknya tidak salah pergaulan yang menyebabkan prestasi si anak turun. Orang tua yang salah menanamkan akhlak dari kecil juga mempengaruhinya kelak dalam pergaulannya. Orang tua harus tahu bagaimana kondisi lingkungan sekitar yang dapat mempengaruhi pergaulan anaknya. Pergaulan baik buruk seorang anak di lingkungan tempat tinggalnya akan terbawa dalam pergaulannya di sekolah. Semisal seorang anak tepengaruh buruk oleh pergaulan lingkungan tempat tinggal akan terbawa ke sekolah yang berdampak menurunnya semangat belajar si anak. Lebih buruknya prestasi anak yang tadinya baik jadi buruk. Orang tua perlu hati-hati lagi dalam mengawasi pergaulan anak di sekitar kita pentingnya dalam hal keberhasilan proses belajar si anak.

Oleh karena pengaruh tersebut seorang anak menurun motivasi belajarnya. Dari pihak sekolah juga sangat berpengaruh pada pergaulan yang ada pada seorang anak. Seorang guru di lingkungan sekolah juga ikut berperan mengarahkan akhlak muridnya dalam bergaul. Penegakan peraturan yang ketat di sekolah juga memberikan dampak pada pergaulan yang ada di sekolah demi pretasi setiap murid sekolah tersebut

Dampak negatif dan bahaya ini muncul terkait dengan perilaku serta kondisi pendidikan yang sedang ditempuh oleh para pelaku kelompok remaja yang amburadul.

Malas belajar - Malas belajar merupakan dampak pertama yang muncul dalam kalangan para remaja (pelajar) yang terjerumus ke dalam kelompok yang amburadul. Yang mana, mereka sudah terlalu asyik di dalam dunia kelompok sehingga enggan untuk belajar. Apalagi bila hal yang harus dipelajari adalah materi yang tidak disukai.

Menurunnya Prestasi Akademik - Menurunnya prestasi atau menurunnya nilai akademik bagi para remaj yang terjerumus dalam kelompok yang amburadul adalah akibat kebiasaan malas untuk belajar. Kemalasan ini muncul karena mereka terlalu asyik dengan dunia pergaulan bebasnya dibandingkan kewajibannya belajar sebagai pelajar. Sehingga tidak mengherankan apabila kelakukan malas belajar berimbas pada turunnya prestasi atau nilai akademik yang didapatkan.

Malas Bersekolah - Malas sekolah juga bisa saja terjadi pada kalangan remaja yang terjerumus ke dalam kelompok yang amburadul. Malas bersekolah ini merupakan puncak akibat masalah lainnya yang sudah dijelaskan sebelumnya, yaitu malas belajar dan menurunnya prestasi atau nilai akademik yang diperoleh. Celakanya lagi, meskipun pada awalnya telah pamit untuk berangkat ke sekolah, namun pada akhirnya memutuskan untuk membolos sekolah.

Memudarnya Ilmu Pengetahuan - Apabila para remaja sudah terjerumus ke dalam kelompok yang amburadul akan berdampak pada berkurangnya motivasi belajar, menurunnya prestasi (nilai), dan pada akhirnya akan malas sekolah. Akibat dari fenomena ini  menuju pada ilmu pengetahuan yang telah dipelajari dan dipahami sebelumnya akan memudar. Bahkan efek paling buruk adalah kehilangan ilmu yang telah dipelajari atau esensi dari ilmu pengetahuan yang telah di dapatkan pada proses pembelajaran sebelumnnya..

Contoh Kasus : Seragam yang Amburadul

Seragam  peserta  didik yang cenderung "gaul" dan "super minim" lebih banyak dipertontonkan pada sinetron sekolahan. Padahal sangat sedikit sekali atau bahkan tak ada sekolah yang memberikan ijin atau keluasan kepada peserta didik putri untuk mengekakan seragam sekolah yang ketat seperti rok mini. Yang lebih parah, siswi pemakai rok panjang ataupun berjilbab lebih sering menggambarkan tokoh yang culun, lugu dan selalu jadi bahan tertawaan dan ejekan.

Selaras dengan gaya siswinya yang hampir mirip artis, para siswanya pun berpakaiaan amburadul ala geng dalam film-film Korea atau Jepang. Selain itu, penampilan mereka disulap dengan aneka gaya rambut plus diwarnai. Sama halnya dengan siswi yang memakai rok panjang, cowok yang berseragam sopan selalu mewakili tokoh yang culun. Lengkap dengan kacamata minus plus celana yang cingkrang. Tapi cingkrangnya tak menampakkan nuansa religi ala salafi, namun lebih pada karakter keculunan untuk melengkapi kacamata minus tadi.

0 Response to "Kenakalan Remaja: Masuk Ke Dalam Kelompok Rusak dan Amburadul"

Posting Komentar