Penilaian Pencapaian Kompetensi Sikap

Penilaian Pencapaian Kompetensi Sikap

A. Penilaian Sikap

Sikap secara umum didefinisikan sebagai pengaruh atau penolakan, penilaian, suka atau tidak suka, atau kepositifan atau kenegatifan terhadap suatu obyek psikologis (Mueller, 1992). Sikap merupakan komponen penting dalam jiwa manusia yang akan mempengaruhi perilaku seseorang. Sikap mempengaruhi segala keputusan yang kita ambil maupun yang kita pilih. Sikap kita akan mempengaruhi siapa teman hidup yang kita pilih, baju kita sukai, hobi yang akan kita tekuni. Singkatnya, sikap mempengaruhi kehidupan kita sehari-hari.

Edward (1957) menyatakan bahwa attitude as the degree of positive or negative affect associated with some psychological object. Sikap merupakan afeksi positif atau negatif yang berhubungan dengan beberapa objek psikologis. Objek sikap dapat berupa simbol, ungkapan, slogan, orang, institusi, ideal, ide, dsb. Sikap sebagai suatu kesatuan kognisi yang mempunyai valensi dan akhirnya berintegrasi ke dalam pola yang lebih luas. Dari sudut motivasi, sikap merupakan suatu keadaan kesediaan untuk bangkitnya motif (Mar’at, 1981). Sikap belum merupakan tindakan atau aktivitas, melainkan berupa kecenderungan (tendency) atau predisposisi tingkah laku.

Menurut Mouly (1967) sikap memiliki tiga komponen : 
  1. Komponen afektif  (kehidupan emosional individu), yaitu perasaan tertentu (positif atau negatif) yang mempengaruhi penerimaan atau penolakan terhadap objek sikap sehingga menimbulkan rasa senang-tidak senang, takut-tidak takut. 
  2. Komponen kognitif (aspek intelektual) yaitu berhubungan dengan  konsep terhadap objek sikap. 
  3. Komponen behavioral yaitu kecenderungan individu untuk bertingkah laku tententu terhadap objek sikap.

Pengaruh sikap yang kuat dalam kehidupan sehari-hari manusia mendorong banyak peneliti dan praktisi dalam pendidikan dan ilmu sosial meneliti tentang sikap, baik pembentukan dan perubahannya maupun pengaruh sikap terhadap perilaku manusia (Mueller, 1992). Penelitian tentang sikap memang tidak mudah, karena sikap merupakan variabel yang abstrak (Henerson,dkk, 1986). Pengukuran sikap seseorang tentu berbeda dengan pengukuran tekanan darah, di mana pengukuran tekanan darah dapat secara obyektif diukur dan mudah dilakukan. Penelitian dalam keperawatan seringkali mengukur variabel-variabel yang agak sulit diukur, misalnya mengukur sikap, persepsi, motivasi, dan lain-lain. Pengukuran variabel-variabel tersebut memang  tidak mudah terutama dalam penyusunan instrumennya. Tulisan ini bertujuan untuk menuntun para peneliti pemula tentang cara mendesain instrumen pengukuran sikap serta pengukuran validitas dan reliabilitasnya. Uraian meliputi cara pengukuran sikap, langkah, skala likert serta cara mengukur validitas dan reliabilitas pengukuran sikap.

B. Cakupan Penilaian Sikap dalam Kurikulum 2013

Kompetensisikap dalam kurikulum 2013 dibagi menjadi dua, yaitu sikap spiritual dan sikap sosial. Cakupan Sikap spiritual meliputi pembentukan peserta didik yang beriman dan bertakwa. Cakupan Sikap sosial meliputi pembentukan peserta didik  yang  berakhlak mulia,  mandiri, demokratis, dan bertanggungjawab. Sikap spiritual sebagai perwujudan dari menguatnya interaksi  vertikal dengan  Tuhan  Yang    Maha  Esa,  sedangkan  sikap  sosial  sebagai perwujudan eksistensi kesadaran dalam upaya mewujudkan harmoni kehidupan. 

Pada jenjang SMA/MA, kompetensi sikap spiritual mengacu pada KI-1: Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya,  sedangkan  kompetensi  sikap  sosial mengacu  pada KI-2:  Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan pro-aktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.  

Berdasarkan rumusan KI-1 dan KI-2 di atas, penilaian sikap mencakup:  

Tabel 1. Cakupan Penilaian Sikap

Penilaian sikap spiritual
Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianut
Penilaian sikap sosial
1.      jujur
2.      disiplin
3.      tanggung jawab
4.      toleransi
5.      gotong royong
6.      santun

KD  pada  KI-1:  aspek  sikap  spiritual  (untuk matapelajaran  tertentu  bersifat generik,  artinya berlaku untuk seluruh materi pokok). Sedangkan KD pada KI-2: aspek sikap sosial  (untuk  matapelajaran  tertentu  bersifat  relatif  generik,  namun  beberapa  materi  pokok tertentu  ada  KD  pada  KI-3  yang  berbeda  dengan  KD  lain  pada  KI-2).  Guru  dapat menambahkan sikap-sikap tersebut menjadi perluasan cakupan penilaian sikap. Perluasan cakupan penilaian  sikap  didasarkan  pada   karakterisitik  KD  pada  KI-1  dan  KI-2 setiap mata pelajaran. 


KOMPETENSI SIKAP, PENILAIAN SIKAP, PESERTA DIDIK

C. Perumusan Indikator dan Contoh Indikator 

Indikator merupakan tanda tercapainya suatu kompetensi. Oleh karena itu, indikator harus dapat terukur. Dalam konteks penilaian sikap, indikator merupakan tanda-tanda yang dimunculkan oleh peserta didik, yang dapat diamati atau diobservasi oleh guru sebagai representasi dari sikap yang dinilai. Berikut  ini  dideskripsikan beberapa contoh indikator dari sikap-sikap yang tersurat dalam KI-1 dan KI-2.

Tabel 2. Daftar Deskripsi Indikator
Sumber: Model Penilaian dan Model Raport Kurikulum 2013 (Direktorat PSMP, Kemendikbud 2013)
Sikap dan Pengertian
Contoh Indikator
Sikap Spiritual
·         Berdoa sebelum dan sesudah menjalankan sesuatu.
·         Menjalankan ibadah tepat waktu.
·         Memberi salam pada saat awal dan akhir presentasi sesuai agama yang dianut.
·         Bersyukur atas nikmat dan karunia Tuhan Yang Maha Esa;
·         Mensyukuri kemampuan manusia dalam mengendalikan diri
·         Mengucapkan syukur ketika berhasil mengerjakan sesuatu.
·         Berserah diri (tawakal) kepada Tuhan setelah berikhtiar atau melakukan usaha.
·         Menjaga lingkungan hidup di sekitar rumah tempat tinggal, sekolah dan masyarakat
·         Memelihara hubungan baik dengan sesama umat ciptaan Tuhan Yang Maha Esa
·         Bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai bangsa Indonesia.
·         Menghormati orang lain menjalankan ibadah sesuaidengan agamanya.
Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianut
Sikap Sosial
·         Tidak menyontek dalam mengerjakan ujian/ulangan
·         Tidak menjadi plagiat (mengambil/menyalin karya orang lain tanpa menyebutkan sumber)
·         Mengungkapkan perasaan apa adanya
·         Menyerahkan kepada yang berwenang barang yang ditemukan
·         Membuat laporan berdasarkan data atau informasi apa adanya
·         Mengakui kesalahan atau kekurangan yang dimiliki
Jujur
                            Disiplin
·         Datang tepat waktu
·         Patuh pada tata tertib atau aturan bersama/ sekolah
·         Mengerjakan/mengumpulkan tugas sesuai dengan waktu yang ditentukan
·         Mengikuti kaidah berbahasa tulis yang baik dan benar
Tanggung jawab
·         Melaksanakan tugas individu dengan baik
·         Menerima resiko dari tindakan yang dilakukan
·         Tidak menyalahkan/menuduh orang lain tanpa bukti yang akurat
·         Mengembalikan barang yang dipinjam
·         Mengakui dan meminta maaf atas kesalahan yang dilakukan
·         Menepati janji
·         Tidak menyalahkan orang lain utk kesalahan tindakan kita sendiri
·         Melaksanakan apa yang pernah dikatakan tanpa disuruh/diminta
Toleransi
·         Tidak mengganggu teman yang berbeda pendapat
·         Menerima kesepakatan meskipun berbeda dengan pendapatnya
·         Dapat menerima kekurangan orang lain
·         Dapat mememaafkan kesalahan orang lain
·         Mampu dan mau bekerja sama dengan siapa pun yang memiliki keberagaman latar belakang, pandangan, dan keyakinan
·         Tidak memaksakan pendapat atau keyakinan diri pada orang lain
·         Kesediaan untuk belajar dari (terbuka terhadap) keyakinan dan gagasan orang lain agar dapat memahami orang lain lebih baik
·         Terbuka terhadap atau kesediaan untuk menerima sesuatu yang baru
Gotong royong
·         Terlibat aktif dalam bekerja bakti membersihkan kelas atau sekolah
·         Kesediaan melakukan tugas sesuai kesepakatan
·         Bersedia membantu orang lain tanpa mengharap imbalan
·         Aktif dalam kerja kelompok
·         Memusatkan perhatian pada tujuan kelompok
·         Tidak mendahulukan kepentingan pribadi
·         Mencari jalan untuk mengatasi perbedaan pendapat/pikiran antara diri sendiri dengan orang lain
·         Mendorong orang lain untuk bekerja sama demi mencapai tujuan bersama
Santun/Sopan
·         Menghormati orang yang lebih tua.
·         Tidak berkata-kata kotor, kasar, dan takabur.
·         Tidak meludah di sembarang tempat.
·         Tidak menyela pembicaraan pada waktu yang tidak tepat
·         Mengucapkan terima kasih setelah menerima bantuan orang lain
·         Bersikap 3S (salam, senyum, sapa)
·         Meminta ijin ketika akan memasuki ruangan orang lain atau menggunakan barang milik orang lain
·         Memperlakukan orang lain sebagaimana diri sendiri ingin diperlakukan
Percaya diri
·         Berpendapat atau melakukan kegiatan tanpa ragu-ragu.
·         Mampu membuat keputusan dengan cepat
·         Tidak mudah putus asa
·         Tidak canggung dalam bertindak
·         Berani presentasi di depan kelas
·         Berani berpendapat, bertanya, atau menjawab pertanyaan

D. Pengukuran dan Penilaian Sikap

Sikap dapat diukur dengan metode atau teknik berikut ini: 
  1. Measurement by scales ( pengukuran sikap dengan menggunakan skala)  muncullah skala sikap. 
  2. Measurement by rating  merupakan pengukuran sikap dengan meminta pendapat atau penilaian para ahli yang mengetahui sikap individu yang dituju. 
  3. Indirect method merupakan pengukuran sikap secara tidak langsung yakni mengamati (eksperimen) perubahan sikap/pendapat peserta didik.

Dua model skala sikap, yaitu : (1) Skala Sikap Likert, dan (2) Skala Sikap Thorstone. Skala Sikap Likert tersusun atas beberapa pernyataan positif (favorable statements) dan pernyataan negatif (unfavorable statements) yang mempunyai lima kemungkinan jawaban (option) dengan kategori yang continuum, dari mulai jawaban sangat setuju (strongly agree) sampai sangat tidak setuju (strongly disagree).

Setiap cara memiliki keuntungan dan keterbatasan sehingga peneliti perlu mempertimbangkan cara yang sesuai dengan tujuan penelitian sikap. Wawancara langsung dilakukan dengan menggunakan daftar pertanyaan yang ditanyakan langsung kepada responden. Kelemahan metode ini adalah responden seringkali merasa ragu-ragu untuk menjawab pertanyaan yang diajukan sehingga hasil wawancara yang diperoleh dapat tidak sesuai dengan kenyataannya. 

REFERENSI

Edwart, Allen. (1957). Techniques of Attitude Scale Construction. Appleton-Century-Croft, Inc.

Henerson, M.E., Morris, L.L. & Gibbon, CTF. (1986). How to Measure Attitudes. London: Sage Publications 

Mar'at. (1982). Sikap Manusia Perubahan serta Pengkurannya. Jakarta: Ghalian.

Mouly, George J. (1967). Psychology for Effective Teaching, 2nd ed. Florida: Holt Rinehart Winston. 

Mueller, D.J. (1992), Mengukur Sikap Sosial: Pegangan untuk Peneliti dan Praktisi. (E.S. Kartawidjaja). Jakarta: Radar Jaya Offset.

0 Response to "Penilaian Pencapaian Kompetensi Sikap"

Posting Komentar