Home / Pendidikan / Penelitian / Gagasan Pengembangan Pemahaman Konsep dan Kemampuan Pemecahan Masalah Fisika

Rabu, 29 Maret 2017

Gagasan Pengembangan Pemahaman Konsep dan Kemampuan Pemecahan Masalah Fisika

Gagasan Pengembangan Pemahaman Konsep dan Kemampuan Pemecahan Masalah Fisika

Eureka Pendidikan - Gagasan pengembangan pemahaman konsep dan kemampuan pemecahan masalah fisika dilandasi oleh beberapa konsepsi teoretis (Rosana, 2014) :
  1. Konsepsi fisika merupakan subyek yang senantiasa mengalami perubahan (Wenning, 2006). 
  2. Learning physics is not about memorizing facts, it is about comprehension and mathematics (Zhaoyao, 2002: 8). 
  3. Learning physics requires learning to do the problems (Oman & Oman, 1997: xvii). 
  4. Effort to solve problem and apply meaningful knowedge must be preceded by positive attitude and effort to understand it (Simon, 1996: 94). 



Berdasarkan penjelasan teoretis tersebut, pemahaman (understanding) merupakan kata kunci dalam pembelajaran. Beberapa konsepsi teoretis yang melandasi kesimpulan tersebut seperti yang diungkapkan oleh Rosana (2014) adalah sebagai berikut :
  1. Konsepsi belajar mengacu pada pandangan konstruktivistik, bahwa understanding construction menjadi lebih penting dibandingkan dengan memorizing fact (Abdullah & Abbas, 2006; Brook & Brook, 1993; Jonassen, 1999; Mayer, 1999; Morrison & Collins, 1996; Riesbeck, 1996). 
  2. Rote learning leads to inert knowledge — we know something but never apply it to real life (Heinich,et al., 2002). 
  3. Salah satu tujuan pendidikan adalah memfasilitasi peserta didik untuk mendapatkan pemahaman yang dapat diungkapkan secara verbal, numerikal, kerangka pikir positivistik, kerangka pikir kehidupan berkelompok, dan kerangka kontemplasi spiritual (Gardner, 1999a). 
  4. Understanding is knowledge in thoughtful action (Perkin & Unger, 1999:95). 
  5. Pemahaman adalah suatu proses mental terjadinya adaptasi dan transformasi ilmu pengetahuan (Gardner, 1999b). 
  6. Pemahaman merupakan landasan bagi peserta didik untuk membangun kepekaan dan kebijaksanaan (Longworth, 1999:91). 
  7. Pemahaman merupakan indikator unjuk kerja yang siap direnungkan, dikritik, dan digunakan oleh orang lain (Gardner, 1999). 
  8. Pemahaman merupakan perangkat baku program pendidikan yang merefleksikan kompetensi (Yulaelawaty, 2002). 
  9. Pemahaman muncul dari hasil evaluasi dan refleksi diri sendiri (Wenning, 2006). 

Dengan demikian, pemahaman sebagai representasi hasil pembelajaran menjadi sangat penting. Landasan teoretis sebagai alternatif pijakan dalam mengemas pembelajaran untuk pemahaman (learning for understanding) sekaligus dalam pengembangan kemampuan pemecahan masalah fisika adalah sebagai berikut:
  1. Tiga wawasan berpikir dalam pembelajaran fisika: (a) to present subject matter is not teaching, (b) to store stuff away in the memory is not learning (c) to memorize what is stored away is not proof of understanding (Nachtigall, 1998:1). 
  2. Guru fisika dianjurkan untuk mengurangi berceritera dalam pembelajaran, tetapi lebih banyak mengajak para peserta didik untuk bereksperimen dan memecahkan masalah (Williams, 2005). 
  3. Guru fisika dianjurkan lebih banyak menyediakan context-rich problem dan mengurangi context-poor problem dalam pembelajaran (Yerushalmi & Magen, 2006). 
  4. “Meaning making is not just an individual operation, the individual interacts with others to construct shared knowledge” (Costa, 1999:27). 
  5. Dalam Pengembangan pemahaman konsep dan kemampuan pemecahan masalah fisika terjadi melalui proses perubahan konseptual secara berkelanjutan (Ardhana et al., 2003; Hynd, et al., 1994; Santyasa, et al., 2005; Santyasa, et al., 2006). 

Berdasarkan semua landasan teori diatas dapat dikaji beberapa 3 hal, yaitu :
  1. Guru harus melakukan perubahan paradigma dalam memfasilitasi siswa. Mengajar adalah menggubah lingkungan belajar dan menyiapkan rangsangan-rangsangan kepada peserta didik untuk melakukan inquiry learning dan memecahkan masalah”(Jabot & Kautz, 2003; Wenning & Wenning, 2006). Mengajar bukan berfokus pada how to teach tetapi hendaknya lebih berorientasi pada how to stimulate learning (Bryan, 2005; Longworth, 1999; Novodvorsky, 2006; Popov, 2006; Wenning, 2005; Wenning, 2006) dan learning how to learn (Longworth, 1999; Novak &Gowin, 1985). 
  2. Pengembangan pemahaman dan kemampuan pemecahan masalah, pembelajaran kolaboratif yang memberdayakan potensi dialog antar peserta didik menjadi sangat penting. 
  3. Penerapan model perubahan konseptual dalam pembelajaran fisika terbukti efektif dalam pengembangan pemahaman konsep dan kemampuan pemecahan masalah. 

Berkaitan dengan pemahaman konsep dan kemampuan pemecahan masalah, hasil belajar yang dinilai meliputi tiga aspek, yaitu aspek pemahaman konsep, penalaran, dan pemecahan masalah.

REFERENSI
Rosana, D. (2014). Evaluasi Pembelajaran Sains. Yogyakarta.