Home / Penelitian / Korelasi antara Karakter Afektif dalam Proses Pembelajaran dan Hasil Belajar Peserta Didik SMA

Kamis, 29 November 2018

Korelasi antara Karakter Afektif dalam Proses Pembelajaran dan Hasil Belajar Peserta Didik SMA

Korelasi antara Karakter Afektif dalam Proses Pembelajaran dan Hasil Belajar Peserta Didik SMA


Pendidikan adalah salah satu upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Kecerdasan yang ditekankan dalam pendidikan hendaknya memberikan keterampilan nyata bagi peserta didik untuk dapat digunakan dalam kehidupan baik secara individu maupun kehidupan sebagai mahluk sosial. Oleh karena itu, pendidikan adalah suatu hal yang bersifat mutlak untuk dikembangkan dan dijaga kualitas terutama pada pembinaan peserta didik. 

Di Indonesia, sistem pendidikan yang diatur dalam undang-undang sistem pendidikan Nomor 20 tahun 2003 menekankan pada pendidikan karakter agar menciptakan peserta didik yang lebih bermartabat. Tujuan dari undang-undang tersebut menunjukkan bahwa pendidikan karakter berpengaruh besar terhadap watak dan sikap peserta didik. Namun, implementasi pendidikan karakter berdasarkan undang-undang tersebut belum terealisasi dengan baik.

Sistem pendidikan yang tertera pada kurikulum 2006 atau yang lebih dikenal dengan akronim KTSP dikembangkan dengan menitikberatkan pada kecerdasan kognitif. Dalam hal ini terdapat suatu yang ironi, mengingat kebutuhan peserta didik tidak sebatas kercerdasan kognitif. Peserta didik membutuhkan keterampilan lain seperti keterampilan psikomotorik, afektif, hardskill dan softskill. 

Dalam upaya melengkapi kekurangan yang ada pada KTSP, Kementrian Pendidikan Indonesia mengembangkan sebuah kurikulum baru yang juga memberikan ruang yang lebih besar pada pendidikan karakter pada tahun 2013. Pengembangan pendidikan karakter diindikasikan oleh kompetensi inti I dan Kompetensi II yang berkaitan dengan kecerdasan sikap dan spiritual peserta didik. 

Seiring dengan penerapan pendidikan karakter, terdapat banyak keterampilan yang didapatkan oleh peserta didik. Tidak sebatas watak dan sikap, akan tetapi pendidikan karakter juga mempengaruhi berbagai aspek dari hasil belajar yang didapatkan oleh peserta didik setelah mendapatkan pendidikan berkarakter. Salah satu aspek yang dampaknya terlihat jelas adalah kecerdasan kognitif. 

Krathwohl, Bloom dan Masia (1964) menyatakan bahwa terdapat hubungan antara domain afektif dan domain kognitif yang dinyatakan sebagai berikut: (1) pencapaian level knowledge domain kognitif didahului dengan level receiving domain afektif; (2) pencapaian level pemahaman domain kognitif membutuhkan hasil yang signifikan pada level responding domain afektif; (3) sebelum pencapaian level aplikasi domain kognitif, peserta didik harus berada pada level valuing domain afektif terlebih dahulu; (4) level analisa domain kognitif dapat dicapai setelah pencapaian level conceptualization domain afektif; (5) dan peserta didik telah mampu melewati level characterization domain afektif untuk dapat mencapai level evaluasi domain kognitif.

Pada proses pembelajaran sains, sikap ilmiah merupakan salah satu faktor yang mendorong peserta didik dalam melakoni proses pembelajaran. Peserta didik yang memiliki sikap ilmiah yang baik akan mengalami proses belajar yang lebih baik pula dibanding peserta didik yang memiliki sikap ilmiah yang lebih rendah. Hal ini didukung oleh Skinner dan Beltmont (1993) yang menyatakan bahwa kegiatan pembelajaran akan meningkat seiring dengan peningkatan sikap peserta didik dalam mengikuti proses pembelajaran. Oleh karena itu, sikap ilmiah penting untuk dikembangkan dalam proses pembelajaran. Senada dengan pernyataan ini Mardapi (2012) mengemukakan bahwa salah satu upaya meningkatkan kualitas pendidikan adalah dengan memperbaiki proses pembelajaran. 

Scientific  attitudes  are  attributes  of  an  individual  who  not  only  behave  outwardly  in desirable way towards any scientific endeavor but also understand why they act as they do so (Rao, 1996). Berdasarkan definisi tersebut, peserta didik tidak hanya menyelesaikan masalah dengan metode ilmiah tetapi juga memahami apa yang dilakukan selama proses pembelajaran.  Proses penyelesaian masalah secara mandiri yang dilakukan secara berulang akan memberikan pengalaman belajar yang baik dan dapat membentuk sikap yang lebih berkesan untuk peserta didik selama proses pembelajaran. Selain itu, Moore dan Foy (1997) juga menyatakan bahwa belajar dengan mengembangkan sikap ilmiah akan membuat proses pembelajaran lebih efektif.

Karakter Afektif, Hasil belajar


Ruang lingkup sikap ilmiah sangat besar dan luas. Cakupan dari ruang lingkup terdiri dari beberapa indikator yang kompleks. Menurut Harlen (1992) cakupan sikap ilmiah antara lain (1) sikap ingin tahu; (2) sikap respek terhadap data; (3) sikap refleksi kritis; (4) sikap ketekunan; (5) sikap kreatif dan penemuan; (6) sikap berpikiran terbuka; (7) sikap bekerja sama dengan orang lain; (8) sikap keinginan untuk menerima ketidakpastian; (9) sikap sensitif terhadap lingkungan.

Dalam upaya implementasi sikap ilmiah selama proses pembelajaran fisika dijabarkan dalam bentuk aktifitas bertanya, mendiskusikan tugas, mendengarkan ceramah, bekerja sama, dan menyampaikan pendapa. Sikap ini diukur dengan menggunakan instrumen penilaian dalam bentuk observasi yang dikembangkan oleh Tawil (2011).

Sikap ilmiah adalah salah satu hasil yang sama pentingnya dengan aspek kognitif dalam pembelajaran sains (Carin, 1997). Penelitian yang dilakukan oleh Zint (2002) menyatakan bahwa sikap ilmiah siswa merupakan faktor yang signifikan dalam memberikan dampak langsung terhadap prestasi belajar sekitar 1,1% dari total varians dalam prestasi. Penelitian ini juga didukung dengan pendapat Abell dan Lederman (2007) menyatakan bahwa sikap ilmiah adalah salah satu faktor penentu prestasi belajar sains peserta didik. 

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan didapatkan hasil bahwa terdapat korelasi antara aktivitas dari peserta didik terhadap hasil belajar. Dari lima jenis aktivitas masing memiliki koefisien korelasi sebesar (1) Bertanya kepada teman atau guru memiliki koefisien korelasi sebesar 0.571; (2) Mendiskusikan tugas memiliki koefisien korelasi sebesar 0.557; (3) Mendengarkan ceramah guru memiliki koefisien korelasi sebesar -0.210; (4) Bekerja sama dalam melakukan percobaan dan/atau pengamatan memiliki koefisien korelasi sebesar 0.617; dan (5) Menyampaikan pendapat atau imformasi kepada teman dan/atau guru memiliki koefisien korelasi sebesar 0.404. Sedangkan Skor total sikap ilmiah secara keseluruhan memiliki koefisien korelasi sebesar 0.810. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat korelasi antara karakter afektif dalam bentuk sikap ilmiah dengan hasil belajar peserta didik SMA.


REFERENSI

Dahlan, A., Sarea, M.S., & Putri, F.S. (2015). The correlation between affective characters in learning process and the learning achievement of senior high school student. Proceeding of International Conference on Educational Research and Innovation, ISSN 2443-1753, 52-56.

Share This

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar