Home / Penelitian / Penelitian terkait HOTS (Higher Order Thinking Skill)

Kamis, 29 November 2018

Penelitian terkait HOTS (Higher Order Thinking Skill)

Penelitian terkait HOTS (Higher Order Thinking Skill)


Higher order thinking skill diteliti oleh Barak & Dori (2009). Subjek penelitian adalah 51 mahasiswa Institute Technology Israel. Penelitian dilakukan dengan membentuk kursus yang diberi nama Journal Club dengan aktifitas diskusi kelas. Penelitian ini menemukan hasil bahwa higher order thinking skills mahasiswa dapat dilihat dari pertanyaan yang kompleks, memberikan opini, memberikan argumen yang konsisten, dan mendemonstrasikan berpikir kritis.

Penelitian Marshall & Horton (2011) dilakukan dengan mengobservasi 100 kelas pada tingkat sekolah menengah yang menggunakan inquiry based instruction. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kelas sains dan matematika, guru yang lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengembangkan konsep terkait sains dan matematika mengakibatkan peserta didik memiliki level kognitif yang tinggi sedangkan guru yang lebih banyak menghabiskan waktu untuk menjelaskan konsep mengakibatkan peserta didik memiliki level kognitif yang rendah. Oleh karena itu, terdapat korelasi yang positif antara presentase guru dalam mengembangkan konsep dengan level kognitif peserta didik.

Penelitian terkait higher order thinking juga dilakukan oleh Vijayaratnam (2012). Subjek penelitian ini adalah 15 mahasiswa fakultas teknik International University di Malaysia. Penelitian ini menggunakan mixed method dengan teknik wawancara, observasi, analisis dokumen, dan evaluasi final. Hasil penelitian ini adalah grup problem solving secara efektif dapat mengembangkan higher order thinking, problem solving, dan kerjasama mahasiswa. 

Higher order thinking pada pembelajaran fisika diteliti oleh Ramos, et al. (2013). Subjek penelitian adalah 393 mahasiswa Benguet State University yang terdiri dari 112 laki-laki dan 281 perempuan. Aspek HOTS yang diteliti adalah menganalisis, membandingkan, menginferensi, dan mengevaluasi. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara higher order thinking skill dengan performance fisika mahasiswa laki-laki dan perempuan. Level HOTS pada aspek menganalisis, membandingkan, dan mengevaluasi secara signifikan mempengaruhi performance fisika mahasiswa laki-laki dan level HOTS pada aspek menganalisis, menginferensi, dan mengevaluasi secara signifikan mempengaruhi performance fisika mahasiswa perempuan.

HOTS (Higher Order Thinking Skill)


Penelitian HOTS pada pembelajaran fisika juga dilakukan oleh Istiyono, et al. (2014)  dengan mengembangkan tes kemampuan berpikir tingkat tinggi fisika (Physics Test for Higher Order Thinking Skills (PhysTHOTS). dalam bentuk soal pilihan ganda beralasan (polytomus). Aspek dan sub aspek HOTS meliputi menganalisis (membedakan, mengurutkan, memberikan ciri khusus), mengevaluasi (mengecek, mengkritik), dan menciptakan (memunculkan ide, merencanaan, menghasilkan). Tes yang dikembangkan telah memenuhi validitas isi dan mendapatkan bukti empiris validitas konstruk fit pada Partial Credit Model (PCM) berdasarkan data politomus empat ketegori; seluruh item dalam kriteria baik karena memiliki tingkat kesulitan pada rentang antara -2,00 sampai dengan 2,00, serta koefisien reliabilitas tes lebih dari 0,90 . PhysTHOTS juga sangat tepat digunakan untuk mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi fisika peserta didik yang berkemampuan dari -0,80 sampai 3,40.

Berdasarkan penelitian terkait higher order thinking yang telah dipaparkan di atas, terdapat beberapa hal yang dapat disimpulkan yaitu : (a) HOTS dapat dikembangkan melalui aktifitas diskusi kelas yang mengasah mahasiswa dalam memberikan pertanyaan, opini, argumen, dan mendemonstrasikan keterampilan berpikir kritis; (b) HOTS dapat ditingkatkan dengan mengarahkan peserta didik untuk mengembangkan konsep sains dalam pembelajaran berbasis inquiri; (c) problem solving secara efektif dapat mengembangkan higher order thinking mahasiswa; (d) aspek HOTS terdiri dari menganalisis, membandingkan, menginferensi, dan mengevaluasi; (e) HOTS memiliki hubungan yang signifikan performance fisika mahasiswa.


REFERENSI

Barak, M. & Dori, Y.J. (2009).  Enhancing higher order thinking skills among inservice science teachers via embedded assessment. Science Teacher Education, 20, 459–474.

Istiyono, E., Mardapi, D., dan Suparno. (2014). Pengembangan tes kemampuan berpikir tingkat tinggi fisika (pysthots) peserta didik sma. Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan, 18 (1), 1-12.

Marshall, J.C. & Horton, R.M. (2011). The relationship of teacher-facilitated, inquiry-based instruction to student higher-order thinking. Social Science and Mathematics, 93-101.

Ramos, D.L.S., Dolipas, B. B., & Villamor, B.B., (2013). Higher order thinking skills and academic performance in physics of college students: A regression analysis. International Journal of Innovative Interdisciplinary Research, ISSN 1839‐9053, 48-60.

Vijayaratnam, P. (2012). Developing higher order thinking skills and team commitment via group problem solving: A bridge to the real word. Social and Behavioral Science, 66, 53-63.

Share This

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar